Mengolah Sampah, Menebar Manfaat Lewat Konten
- 15 Okt 2025 19:41 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Di tengah era digital yang serba cepat, Dewangga Kasyafa Prestian, siswa kelas 5 SD Al Hikmah Surabaya, menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi sarana positif untuk perubahan.
Lewat akun Instagram yang dikelola bersama orang tuanya, ia rutin mengunggah konten edukatif tentang pengelolaan sampah organik menggunakan maggot.
Proyek lingkungannya diberi nama "Maggot Si Pengelola Sampah Organik". Setiap hari sepulang sekolah, Dewangga mengolah sampah dari rumah, pasar, hingga sekolah, untuk dijadikan pakan larva BSF (Black Soldier Fly), yang dikenal sebagai maggot.
Hasil akhirnya digunakan untuk memberi makan ayam di DW’s Farm, usaha ternaknya sendiri.
“Aku ingin ngajak masyarakat supaya mulai pilah sampah. Maggot ini bisa bantu mengurangi limbah dan jadi pakan ayam yang sehat,” ujar Dewangga antusias.
Tak hanya sebagai bagian dari lomba Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2024, namun juga sebagai bentuk kontribusi nyata bagi bumi.
Dewangga mengaku membuat konten membuatnya lebih semangat menjalankan proyek.
“Upload-nya nggak ganggu belajar kok, sudah dijadwalin. Aku upload sama mama, karena belum boleh punya akun sendiri,” tambahnya.
Lewat Instagram, Dewangga berharap semakin banyak anak-anak yang tidak hanya bermain gadget, tapi juga menggunakan media sosial untuk hal-hal baik.
“Kalau bisa bantu lingkungan, kenapa tidak?” pungkasnya.
Dampingi Anak, Jangan Dibiarkan Sendiri
Sebagai orang tua, Ovy Soemardi memahami betul risiko dan potensi dari media sosial bagi anak-anak. Karena itu, sejak awal ia dan suaminya aktif mendampingi aktivitas digital Dewangga.
Menurutnya, pendampingan bukan sekadar pengawasan, tetapi juga proses edukasi bersama.
“Kami batasi aksesnya hanya untuk unggah konten proyek dan memberi dukungan ke teman-teman satu lomba. Jadi ada batas dan tujuan yang jelas,” kata Ovy.
Akun Instagram yang digunakan pun atas nama pribadi, namun sepenuhnya dikelola bersama.
Menurut Ovy, penggunaan media sosial bisa menjadi pintu prestasi jika diarahkan dengan tepat.
“Di era sekarang, menyuarakan isu lingkungan bisa menjangkau lebih banyak orang lewat media sosial. Dewangga membawa misi itu, dan kami mendukung sepenuhnya,” katanya.
Ia menyadari bahwa tidak semua anak memiliki literasi digital yang cukup. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua sangat penting.
“Kami tak ingin Dewangga hanya jadi penonton konten, tapi juga bisa menjadi pencipta konten yang berdampak,” ujar Ovy.
Melalui kegiatan ini, keluarga Dewangga berharap semakin banyak anak yang bisa berani bersuara untuk lingkungan dan tetap terlindungi di ruang digital.
Literasi Digital Dimulai dari Keluarga
Menurut Aan Haryono, Koordinator Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur, meningkatnya akses digital oleh anak-anak perlu diimbangi dengan literasi yang kuat.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah algoritma yang membentuk kebiasaan konsumsi konten tanpa disadari. “Apa yang sering diakses, itulah yang terus muncul di beranda. Ini yang kami sebut ‘brand washing digital’,” ujar Aan.
Jika anak-anak dibiarkan begitu saja berselancar di dunia digital, maka ruang pertumbuhannya akan dibentuk sepenuhnya oleh algoritma.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun ruang literasi. “Pencegahan itu lebih baik daripada penanganan. Maka kita ajak keluarga memahami dan memilih mana konten yang tepat untuk anak.”
KPID, lanjut Aan, juga terus mendorong lembaga penyiaran untuk menghadirkan program siaran yang ramah anak dan perempuan. “Program yang menginspirasi, bukan sekadar hiburan, sangat penting agar siaran kita relevan dan mendidik,” tambahnya.
Aan berharap kolaborasi antara keluarga, sekolah, lembaga penyiaran, dan platform digital bisa menciptakan ekosistem informasi yang aman dan mendukung pertumbuhan anak. “Kuncinya tetap: literasi digital keluarga.”
PP TUNAS Lindungi Anak di Ruang Digital
Untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah meluncurkan PP TUNAS, sebuah peraturan tata kelola untuk penyelenggara sistem elektronik (PSE) demi perlindungan anak.
Dalam satu kesempatan, Menteri Komdigi Meutia Hafidz menyebut ini sebagai tonggak penting perlindungan digital anak-anak Indonesia.
“Platform wajib memastikan perlindungan anak lebih utama dari kepentingan komersial,” tegas Meutia.
PP TUNAS melarang eksploitasi data, profiling, hingga paparan konten berbahaya bagi anak-anak. Platform juga dilarang menjadikan anak sebagai komoditas.
Meutia menjelaskan bahwa pembatasan akses tidak bersifat kaku. “Anak usia 13 tahun bisa punya akun jika platform-nya berisiko rendah. Di usia 16 tahun, akses lebih luas tapi tetap didampingi. Penuh akses diberikan di usia 18 tahun.”
Peraturan ini, menurutnya, tidak menargetkan sanksi pada anak atau orang tua, melainkan pada platform digital yang melanggar. “Kami ingin anak-anak tumbuh dalam ruang digital yang sehat dan adil, tidak jadi korban sistem,” katanya.
Meutia menyebut bahwa kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan platform adalah kunci. “Dampingi anak, edukasi mereka, dan pastikan ruang digital jadi tempat berkembang, bukan terjebak.”
Arah Baru Literasi Digital Anak di Indonesia
Kisah Dewangga adalah contoh kecil dari perubahan besar yang bisa dimulai dari rumah. Dengan dukungan orang tua, lingkungan sekolah, dan aturan negara yang berpihak, ruang digital bisa menjadi tempat anak-anak belajar, berkarya, dan berdaya.
Media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan, tapi juga medium transformasi. Ketika anak-anak mulai terlibat aktif dalam menyuarakan isu-isu penting seperti lingkungan, maka harapan akan generasi sadar digital makin nyata.
Peran keluarga, sebagaimana disampaikan Aan Haryono, menjadi fondasi utama. Literasi digital tak bisa hanya ditanamkan di sekolah, tapi juga di rumah — sebagai lingkup paling awal anak mengenal dunia maya.
Sementara itu, PP TUNAS dari Kementerian Komdigi memberi kerangka hukum yang jelas. Dengan pelibatan semua pihak, anak-anak bisa berkembang di era digital tanpa harus kehilangan perlindungan.
Dewangga hanyalah permulaan. Akan ada lebih banyak anak-anak Indonesia yang memanfaatkan media sosial bukan hanya untuk scroll, tapi juga untuk menginspirasi dan mebawa perubahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....