Ketika Khofifah Peluk Keluarga Korban Al Khoziny dengan Haru
- 07 Okt 2025 13:42 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Suasana ruang tunggu RS Bhayangkara Surabaya, Senin (6/10/2025), dipenuhi isak tangis dan wajah-wajah lelah yang menanti kabar anaknya. Di tengah suasana haru itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa datang, menyalami satu per satu keluarga korban runtuhnya mushola Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Tanpa banyak bicara, Khofifah langsung mendekati seorang ibu yang duduk menunduk di pojok ruangan. Ia adalah Halimah, ibu dari almarhum Saki Yusuf, santri yang menjadi salah satu korban. Dengan lembut, Khofifah memeluknya erat.
“Ibu makan ya, jangan sampai tidak makan,” ucap Khofifah pelan sambil berusaha menenangkan Halimah yang tak kuasa menahan air mata. Momen itu membuat sejumlah keluarga korban lain ikut terisak.
Di tengah kepedihan, Khofifah berupaya memberikan penguatan moral dan spiritual bagi para orang tua santri. Ia mengingatkan bahwa anak-anak mereka wafat dalam keadaan mulia menuntut ilmu di pesantren, tempat yang diyakini suci dan penuh keberkahan.
“Semoga seluruh korban wafat dalam keadaan husnul khotimah dan termasuk syahid, karena meninggal saat menuntut ilmu dan beribadah,” katanya penuh haru.
Tak berhenti di sana, Khofifah juga membantu tim rumah sakit dan aparat untuk menghubungi keluarga korban lain yang berada di Bangkalan, agar segera datang ke Surabaya guna melengkapi proses pencocokan data ante mortem.
Sementara itu, proses identifikasi korban terus dilakukan secara teliti oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur. Tim melibatkan pakar forensik dari berbagai institusi, termasuk Universitas Airlangga. Hingga Selasa (7/10/2025), sudah 17 jenazah berhasil diidentifikasi dan diserahkan ke keluarga masing-masing.
“Kami mohon keluarga bersabar hingga proses rekonsiliasi identifikasi tuntas. Tim bekerja sangat hati-hati agar tidak ada kesalahan,” ujar Khofifah.
Di sela tangis dan doa, pelukan Khofifah sore itu menjadi pengingat: bahwa di balik bencana yang merenggut nyawa para santri muda, ada duka yang tidak bisa dihapus, tapi bisa diringankan dengan kehadiran dan kepedulian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....