Empati Seorang Panglima di Tengah Kobaran Api
- 13 Sep 2025 11:31 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Malam itu, langit Surabaya berwarna merah saga. Asap membumbung dari sisi barat Gedung Negara Grahadi. Ribuan massa memadati jalanan, melempar batu, molotov, dan petasan. Teriakan massa dan suara kaca pecah bersahut-sahutan, menggetarkan jantung siapa pun yang menyaksikan.
Namun di tengah suasana yang mencekam, satu sosok berani melangkah maju. Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin, turun langsung ke tengah kerumunan massa. Dengan senyum tenang dan tangan terbuka, ia menghampiri para demonstran yang semula memanas.
“Ijo! Ijo! Ijo!” sorak massa saat melihat Rudy mendekat, menyebutkan julukan khas yang diberikan pada prajurit berseragam hijau. Sambutan itu mengubah atmosfer. Ketegangan sedikit mencair, seolah para mahasiswa pun terkejut melihat keberanian dan ketulusan sang jenderal.
Alih-alih mengerahkan kekuatan bersenjata, Rudy memilih jalan berbeda: empati dan pendekatan humanis. Ia tak datang sebagai Panglima, melainkan sebagai pendengar. “Saya lihat mereka dewasa. Ketika ada yang melempar, mahasiswa sendiri yang melarang,” ujarnya.
Rudy tahu betul bahwa situasi bisa meledak kapan saja. Ada provokator di antara massa. Tapi ia juga percaya pada naluri kepemimpinannya: bahwa dialog lebih kuat dari gas air mata. Bahwa merangkul bisa lebih memadamkan api daripada semprotan water cannon.
Salah satu tuntutan massa malam itu adalah pembebasan rekan-rekan mereka yang ditahan di Polrestabes Surabaya. Rudy tak langsung berjanji, tapi ia memilih membuka jalan: “Kita cari solusi bersama,” katanya di hadapan mahasiswa.
Usai berdialog, Rudy bergerak ke Polrestabes Surabaya, bersama Gubernur Khofifah Indar Parawansa, dan Kapolda Jatim. Di sana, ia melobi agar proses hukum terhadap mahasiswa dapat dilakukan secara adil dan tanpa kekerasan. Namun saat rombongan meninggalkan lokasi, kobaran api justru mulai menyala.
Gedung Grahadi yang sarat sejarah itu nyaris habis dilalap api. Namun sekali lagi, respons cepat dan koordinasi antarlembaga menjadi kunci. Mayjen TNI Rudy Saladin segera memerintahkan pengamanan ketat dan memfokuskan upaya penyelamatan gedung.
Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya, Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura, menerima instruksi singkat namun tegas: "Segera padamkan." Ia langsung mengatur pergerakan personel untuk membuka akses bagi armada pemadam kebakaran.
Di sisi lain, Wakil Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya, Bambang Vistadi, juga berpacu dengan waktu. Ia mengatur empat truk pemadam untuk masuk dari jalur belakang Grahadi. Jalur ini baru bisa diakses berkat pengamanan dari TNI dan bantuan warga sekitar.
“Kalau terlambat lima menit saja, habis sudah Grahadi,” kata Bambang, mengenang detik-detik genting saat api nyaris menyambar gedung utama. Dengan empat unit pemadam — kapasitas gabungan lebih dari 20.000 liter — mereka memadamkan api secara bergiliran.
Metode semprot spray dan jet digunakan bergantian oleh 24 petugas. Dalam waktu kurang dari satu jam, api berhasil dijinakkan. Kobaran tak sempat merambat ke bagian utama gedung. Krisis besar pun berhasil dicegah.
Rudy tak ingin mengklaim keberhasilan ini sebagai kerja satu pihak. Baginya, stabilitas adalah hasil sinergi. Ia menyebut lima unsur penting: pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha. “Tanpa kepercayaan antar-unsur ini, ekonomi jadi korban pertama,” katanya.
Dalam era post-truth seperti saat ini, Rudy menilai empati dan kecepatan berpikir adalah senjata utama. “Berpikir cepat, berani ambil risiko, dan empati. Itu kuncinya,” kata lulusan Akmil 1993 ini.
Lebih dari sekadar aksi pengamanan, malam itu menunjukkan bahwa sosok pemimpin yang hadir, mendengar, dan berani bersentuhan langsung dengan rakyat bisa menjadi penyejuk dalam situasi paling panas sekalipun.
Dan di antara kobaran api serta kemarahan massa, nilai-nilai kemanusiaan justru bersinar paling terang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....