Asiknya Mahasiswa Ubaya Antar Paket JNE Pakai Onthel

  • 30 Jun 2025 19:38 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Siang itu cukup terik di seputaran Kampus Universitas Surabaya (Ubaya). Namun cuaca panas tak menyurutkan semangat lima mahasiswa yang sedang bersiap menjalankan peran tak biasa.

Dengan mengayuh sepeda ontel, mengenakan jaket putih bertanda “JNE” di dada dan ransel besar di punggung, tiga laki-laki dan dua perempuan tampak bersiap memulai pengiriman paket ke sejumlah titik di sekitar kampus.

Mereka adalah kurir paruh waktu dari program Smart Point JNE Onthel Ubaya, hasil kolaborasi antara Universitas Surabaya (Ubaya) dan JNE Surabaya.

Program ini memungkinkan mahasiswa aktif menjadi bagian dari sistem pengantaran paket yang berbasis ramah lingkungan. Mereka mengantar kiriman yang berasal dari mahasiswa, dosen, karyawan, bahkan warga sekitar kampus.

Salah satu kurir itu adalah Abraham Christian Friedrich Tambingon, mahasiswa Fakultas Teknik Ubaya. Meski cuaca cukup menyengat, semangat Abraham tampak tak luntur saat memulai tugas.

“Simpel sih sebenarnya, karena kalau mahasiswa sekarang itu kuliah-pulang, kuliah-pulang, atau istilahnya kupu-kupu. Nah, waktunya bisa lebih efisien. Terus bisa mencari pengalaman baru. Ya, ini ikut join Onthel, karena itu kan ada hal-hal baru yang bisa kita capai buat di dunia kerja ke depannya,” ujar Abraham, sambil mengecek helm dan sepedanya.

Sebelum bergabung di program ini, Abraham mengaku lebih sering mengisi waktu dengan organisasi kampus.

“Sempat ada penghasilan, cuma jarang lah,” katanya.

Namun, dengan bergabung di Smart Point Onthel, ia merasakan manfaat nyata. Tak hanya penghasilan, tetapi juga pengalaman profesional. Sistem kerja diatur secara shift, agar tidak mengganggu kegiatan akademik.

“Kami sistemnya shift-shift-an, jadi masih bisa bagi waktu sama kuliah,” kata Abraham.

Program ini memang dirancang agar para mahasiswa bisa belajar sambil bekerja. Selain membangun etos kerja, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan.

Masing-masing kurir mengantar paket ke titik-titik pengiriman dalam radius 4–5 kilometer dari Ubaya InnovAction Hub—pusat distribusi paket program ini. Satu kali jalan bisa memuat hingga 10 paket dalam ransel.

“Satu titik dihitung Rp1.500. Jadi kalau satu kali jalan bawa 10 paket, bisa dapat Rp15.000. Kalau sehari bisa dua kali, ya tinggal dikalikan. Bulanan bisa sampai Rp600 ribu sampai Rp750 ribu,” ujar Dr. Benny Lianto, Rektor Ubaya.

Lebih dari itu, menurut Benny, mahasiswa diajak belajar dengan sistem yang nyata.

“Mereka belajar bekerja dengan sistem yang sudah ditentukan. Belajar interaksi dengan konsumen, dengan rekan-rekan dari JNE, belajar hal baru yang tidak pernah dijalani sebelumnya, dan tentu saja ada penghasilan yang mereka dapat,” jelasnya.

Smart Point ini sendiri tak hanya melibatkan sepeda ontel biasa, tetapi juga sepeda listrik buatan mahasiswa dan dosen dari Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Ubaya. Sepeda ini dirancang sebagai bagian dari visi green delivery service.

“Jadi kita sekalian sinergikan antara hasil karya mahasiswa teknik dengan pengembangan layanan hijau di kampus. Ini menjadi ajang pembelajaran sekaligus inovasi nyata,” ujar Dr. Benny.

Saat ini, terdapat lima mahasiswa yang aktif sebagai kurir. Jumlah itu diharapkan terus bertambah.

“Karena sebenarnya kalau hanya kuliah-pulang, kurang. Mahasiswa harus punya experience bekerja, bertemu orang, dan menjajal hal-hal baru. Itu sangat penting,” katanya.

Program ini beroperasi setiap hari kerja, dari pukul 08.00 pagi hingga 15.00 sore. Dengan sepeda listrik dan sepeda ontel, pengiriman dilakukan ke sekitar kampus: kos-kosan mahasiswa, rumah dosen, hingga tempat tinggal warga yang memanfaatkan layanan ini.

Menurut Kepala JNE Cabang Utama Surabaya, Ninil Indrasari, kolaborasi ini merupakan bentuk dukungan terhadap semangat kreatif mahasiswa.

“JNE menyambut baik kolaborasi positif ini. Ini membantu kami dalam menambah tenaga kurir untuk pengiriman dalam kota yang masih bisa dijangkau dengan sepeda, sekaligus mendukung aktivitas go green,” kata Ninil.

Lebih lanjut, Ninil menegaskan komitmen JNE untuk terus mendukung generasi muda.

“JNE bukan hanya perusahaan ekspedisi, tapi juga penghubung kebahagiaan sesuai tagline kami, Connecting Happiness. Kami ingin mendukung potensi kreatif generasi muda Indonesia lewat berbagai program.”

Melalui Smart Point JNE Onthel Ubaya, sinergi antara pendidikan tinggi, industri logistik, dan inovasi teknologi lokal tampak nyata.

Program ini tak hanya efisien dan ramah lingkungan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran, pendapatan tambahan, dan pengalaman profesional bagi mahasiswa yang siap menyambut dunia kerja dari atas sadel sepeda.

#JNE

#ConnectingHappiness

#JNE34SatSet

#JNE34Tahun

#JNEContentCompetition2025

#JNEInspirasiTanpaBatas

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....