Ki Sabdho Sutedjo, Dalang Berdarah Tionghoa yang Setia Menghidupi Wayang
- 29 Apr 2025 13:20 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Di balik layar yang terbentang di Ruang Mahameru RRI Surabaya, suara gamelan mengalun lembut, mengiringi kisah Sawitri yang disuarakan oleh seorang dalang berbaju biru, blangkon menempel rapi di kepala, dan sebilah keris yang terselip di pinggangnya.
Ia duduk membelakangi penonton, sebagaimana lazimnya dalam pakem pertunjukan wayang kulit, memainkan tokoh-tokoh pewayangan dengan penuh penghayatan. Bahasa Jawanya mengalir halus, nyaris tanpa cela, seolah lidahnya sudah dibentuk untuk mendalang sejak lahir.
Dialah Tee Boen Liong, pria keturunan Tionghoa yang lebih dikenal dengan nama panggungnya Ki Sabdho Sutedjo.
Pada Selasa (29/4/2025), ia tampil dalam Pagelaran Wayang Kulit Padat yang disiarkan RRI Pro 4 Surabaya, diiringi Karawitan Kartika Budaya Pimpinan Angelica.
Di tengah dominasi dalang berdarah Jawa, nama Ki Sabdho Sutedjo menjadi unik sekaligus inspiratif. Ia adalah salah satu dari sedikit dalang berdarah Tionghoa di tanah Jawa.
“Lakon Sawitri menceritakan tentang kesetiaan dan keberanian seorang wanita dalam membela negaranya,” ujarnya lirih kepada RRI
Tee Boen Liong lahir di Kapasan, Surabaya, pada 27 April 1967. Meski berasal dari keluarga Tionghoa, darah seni mengalir kental dalam dirinya. Ia adalah cucu dari Jie Sik Po, pemilik wayang orang Wargo Budoyo yang cukup tenar di era 1970-an.
“Sejak bayi saya sudah akrab dengan gamelan. Sampai umur dua tahun, ibu saya selalu membawa saya saat menjaga loket tiket wayang orang,” kenangnya.
Sejak kecil, dunia pewayangan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Alih-alih bermain seperti anak pada umumnya, Tee kecil lebih senang menghabiskan waktu di bengkel wayang orang milik sang kakek. Ia menirukan dialog pertunjukan yang baru saja ia tonton, lengkap dengan gerakan tangan memainkan wayang karton buatannya.
Perjalanan seriusnya sebagai dalang dimulai sejak usia 10 tahun, ketika ia dipercaya tampil perdana memainkan lakon Wahyu Cakraningrat dalam peringatan 17 Agustus di kampungnya. Bakatnya kian terasah hingga berhasil meraih Juara 1 Dalang Bocah se-Jawa Timur tahun 1978 lewat lakon Babad Wanamarta.
Keberuntungan berpihak padanya ketika menarik perhatian maestro dalang legendaris, Ki Nartosabdho dari Klaten. Momen ini menjadi titik penting dalam perjalanan spiritual dan seni Tee Boen Liong.
“Saya rutin belajar beberapa bulan sekali antara Surabaya-Semarang. Beliau mau menerima saya sebagai murid karena saya adalah orang Tionghoa yang mau mendalang. Beliau juga mengangkat saya sebagai anaknya dan memberikan nama Sabdho Sutedjo untuk saya,” ujarnya, matanya berbinar saat menyebut nama sang guru.
Kini, ia memimpin kelompok wayangnya sendiri, Suryo Guritno, dan telah tampil di berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, Pekalongan, Malang, Sidoarjo, bahkan di luar Pulau Jawa. Namanya pun mulai disandingkan dengan dalang-dalang besar seperti Ki Entus Susmono dan mendiang Ki Manteb Soedharsono.
Lebih dari sekadar panggung, bagi Ki Sabdho, pedalangan adalah jalan hidup dan misi budaya. Ia tak hanya menghidupi wayang, tapi juga ingin menanamkan kecintaan terhadap seni tradisi pada generasi muda.
“Bukan hanya wayang kulit, tetapi terhadap semua kesenian dan budaya yang kita miliki. Hendaknya masyarakat, khususnya generasi muda, ikut belajar dan mengembangkan. Di sisi lain, pemerintah juga bisa memberikan ruang, sarana, serta kesempatan bagi warganya untuk berkesenian,” kata Ki Sabdho Sutedjo, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....