Penunggang Kuda Bromo Lestarikan Tradisi di Tengah Tantangan

  • 01 Nov 2024 20:31 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Penunggang kuda di kawasan Gunung Bromo memainkan peran penting dalam wisata, sekaligus menjaga tradisi Suku Tengger. Mereka membantu wisatawan menghadapi medan berat menuju kawah dan padang pasir. Jasa ini bukan hanya praktis, tapi juga menawarkan pengalaman unik dan menarik.

Mayoritas penunggang kuda adalah warga asli Suku Tengger, yang terbiasa dengan medan Bromo sejak kecil. Mereka memastikan keselamatan wisatawan sambil memperkenalkan budaya lokal.

Pak Sumadi, seorang penunggang kuda, sudah bekerja lebih dari 15 tahun di Bromo. Baginya, pekerjaan ini lebih dari sekadar mengantar wisatawan; ini tentang melestarikan budaya.

“Kami sering menceritakan legenda Bromo dan sejarah Suku Tengger kepada wisatawan. Kami ingin mereka bukan hanya datang untuk melihat pemandangan, tapi juga mengenal Bromo lebih dalam,” ujar Sumadi.

Bagi kakek 60 tahun ini selain memberikan pengalaman berkuda, ia bersama para penunggang kuda lainnya juga membantu wisatawan menikmati perjalanan dengan aman. Tak jarang mereka sering mendapatkan tips karena merasa puas dan diberikan suguhan tentang cara menikmati Bromo dengan baik.

Meski demikian, pekerjaan ini tidak selalu mudah. Udara dingin dan pasir berterbangan menjadi tantangan harian bagi para penunggang kuda. Kuda-kuda mereka juga membutuhkan perawatan khusus agar tetap kuat.

"Kuda-kuda ini seperti keluarga kami. Kalau mereka sakit (red: Kuda) kami tidak bisa bekerja. Jadi, kami beri makan dan istirahat yang cukup," kata Pak Sumadi.

Ia menjelaskan persaingan antar penunggang kuda saat ini juga semakin ketat seiring meningkatnya jumlah wisatawan. Namun, hal ini diimbangi dengan semakin ramainya pengunjung Bromo, terutama pada musim liburan.

Keindahan eksotisme kawasan Bromo dan ramainya jasa penunggang kuda juga disampaikan Ari (45) salah satu wisatawan asal Jakarta. Menurutnya jasa ini sangat membantu. Terlebih bumbu-bumbu sejarah dan adat istiadat lokal yang disampaikan menjadi daya tarik sendiri.

"Saya senang naik kuda di sini karena bisa menikmati pemandangan tanpa harus terlalu lelah. Para penunggang kuda juga sangat ramah dan memberi banyak informasi tentang Gunung Bromo dan adat istiadat lokal, selain itu saya merasa seperti petualang sejati saat berkuda melintasi padang pasir di bawah kabut tipis Gunung Bromo," kata Ari.

Bagi Suku Tengger, jasa penunggang kuda tidak hanya soal penghasilan, tapi juga identitas budaya. Mereka merasa bangga dapat menjaga tradisi sambil melayani wisatawan di Gunung Bromo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....