Dapur Selarasa Hadirkan Nasi Liwet Sunda tanpa Santan

  • 25 Jul 2026 19:05 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya- Berawal dari keinginan menikmati nasi liwet khas Sunda di Surabaya, Saniya Tanowidjaya melihat peluang menghadirkan sajian tersebut melalui usaha kuliner bernama Dapur Selarasa. Pelaku UMKM Surabaya ini mengembangkan konsep masakan rumahan dengan menu andalan nasi liwet Sunda bercita rasa autentik yang berbeda dari nasi liwet yang banyak dikenal masyarakat.

Saniya mengatakan Dapur Selarasa sebelumnya telah beroperasi di Bekasi, Jawa Barat, sebelum akhirnya ia pindah ke Surabaya. Usaha tersebut kemudian kembali dikembangkan di Kota Pahlawan sejak Mei 2025 dengan mengandalkan sistem penjualan berbasis daring.

"Awalnya saya ingin memesan nasi liwet Sunda, tetapi yang banyak saya temukan di Surabaya justru nasi liwet Solo. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak membuat dan menjual nasi liwet Sunda sendiri," ujar Saniya saat menjadi narasumber Dialog UMKM Pro 4 RRI Surabaya.

Menurutnya, keunikan Dapur Selarasa terletak pada nasi liwet Sunda yang dimasak tanpa santan dan disajikan dengan lauk khas seperti ikan asin teri, pete, ayam goreng, tahu, tempe, serta sambal. Konsep tersebut memberikan cita rasa yang berbeda dibanding nasi liwet Solo yang lebih dikenal masyarakat.

Sajian nasi liwet juga memiliki nilai budaya karena identik dengan tradisi masyarakat Sunda yang menikmati hidangan bersama secara lesehan di atas alas daun pisang.

Dalam menjalankan usahanya, Dapur Selarasa memilih sistem penjualan secara daring melalui aplikasi layanan pesan antar maupun pemesanan langsung melalui WhatsApp. Saniya mengaku belum berencana membuka gerai fisik karena masih mempertimbangkan keterbatasan modal.

"Untuk saat ini kami masih fokus online karena lebih praktis dan jangkauannya lebih luas. Kami menerima pesanan nasi liwet untuk tumpeng, nasi box, besek, hampers, hingga nasi liwet bakar," jelasnya.

Harga satu porsi nasi liwet dibanderol mulai Rp20 ribu hingga Rp32 ribu, bergantung pada pilihan lauk. Dalam proses produksi, Saniya dibantu dua orang, sementara pasokan bahan baku diperoleh dari pemasok tetap yang mengirimkan kebutuhan setiap hari untuk menjaga kualitas dan kelancaran produksi.

Meski demikian, ia mengakui usaha kuliner berbahan baku segar memiliki tantangan tersendiri. Ketersediaan pete yang bersifat musiman membuat harga sering berfluktuasi, sementara kecombrang juga tidak selalu mudah diperoleh.

"Kendala yang kami hadapi salah satunya bahan baku yang musiman, seperti pete. Ketika tidak musim, harganya bisa cukup mahal. Kecombrang juga terkadang sulit dicari, sehingga kami harus pintar mengatur ketersediaan bahan," ungkapnya.

Saniya menjelaskan nama Dapur Selarasa dipilih karena memiliki makna keselarasan rasa sekaligus mencerminkan hubungan baik antara pelaku usaha, pemasok, dan pelanggan. Baginya, membangun usaha kuliner tidak hanya soal menjual makanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman makan yang hangat, bercita rasa khas, dan mampu mempererat kebersamaan di setiap kesempatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....