UMKM Risol Si Nyonya Tumbuh dari Dapur Rumah Berkat Inovasi Rasa
- 20 Jul 2026 15:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Berawal dari hobi memasak di rumah, Linda RH berhasil mengembangkan usaha kuliner Risol Si Nyonya menjadi bisnis yang diminati pelanggan. Kisah tersebut dibagikan saat menjadi narasumber program Muda Kreatif Pro 2 RRI Surabaya, Senin, 20 Juli 2026.
Linda mengatakan usahanya tidak langsung berdiri sebagai bisnis komersial. Awalnya, ia hanya membuat makanan untuk keluarga, teman, dan tetangga sekitar. Ia mengaku sempat mencoba membuat sosis solo. Namun, proses pembuatan kulit yang cukup rumit membuatnya beralih mencoba risol mayo yang saat itu sedang populer.
"Coba lah aku bikin cuma buat cemilan sendiri. Alhamdulillah kok lumayan, akhirnya aku bagi-bagikan ke orang-orang sekitar," ujar Linda.
Respons positif dari para tetangga menjadi titik awal usahanya. Salah seorang tetangga bahkan langsung memesan 30 risol setelah mencicipi produk tersebut.
Sejak itu, Linda mulai menitipkan produknya di penjual makanan saat Ramadan. Penjualan yang terus habis membuatnya terdorong menghadirkan berbagai varian rasa baru.
Ia menjelaskan setiap varian dikembangkan melalui proses riset yang cukup panjang. Beberapa resep membutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum akhirnya sesuai dengan selera pelanggan.
"Yang ayam suir itu lumayan lama R&D-nya. Aku tampung semua masukan, lalu bikin lagi sampai menemukan rasa yang pas," kata Linda.
Menurut Linda, masukan dari teman-teman menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. Ia sengaja mengundang mereka untuk mencicipi setiap resep sebelum dipasarkan.
Perjalanan bisnisnya kemudian berkembang melalui sistem reseller. Dalam beberapa bulan, produk Risol Si Nyonya mampu terjual sekitar 200 hingga 300 buah per hari melalui jaringan reseller.
Keberhasilan tersebut mendorong Linda membuka gerai fisik. Meski demikian, mencari lokasi usaha ternyata menjadi tantangan tersendiri karena harus mempertimbangkan biaya, persaingan, dan potensi pasar.
Ia mengaku sempat merasa khawatir saat hari pertama berjualan. Pembelinya masih didominasi teman-teman sendiri sehingga muncul keraguan terhadap keberlanjutan usaha tersebut. "Besok siapa yang beli, kan teman-teman sudah beli semua. Tapi alhamdulillah tiap hari ada saja pelanggan," ucapnya.
Linda menuturkan keputusan memilih risol bukan sekadar mengikuti tren. Ia juga melihat peluang pasar berdasarkan kebiasaan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Ia menilai pelaku usaha kuliner harus mampu membaca kebutuhan konsumen. Produk yang sedang viral tetap memerlukan kualitas agar pelanggan bersedia membeli kembali.
Dalam menjalankan bisnis makanan, Linda menekankan pentingnya menjaga konsistensi rasa. Menurutnya, perubahan kecil pada tekstur maupun bumbu dapat langsung dirasakan pelanggan. "Kalau kuliner itu harus teliti. Dari timbangan, resep, sampai kadar air harus sama supaya konsistensinya tetap terjaga," ujar Linda.
Saat ini, Risol Si Nyonya telah memiliki tujuh varian rasa. Pilihan tersebut meliputi mayo, ragout ayam suir, sosis mercon, beef bolognese, ayam suir pedas, cokelat, dan varian lainnya yang terus dikembangkan. Linda menyebut seluruh varian memiliki penggemarnya masing-masing. Namun, rasa cokelat menjadi salah satu menu favorit untuk kategori manis.
Meski permintaan terus meningkat, Linda belum membuka layanan pemesanan dalam jumlah besar. Keterbatasan sumber daya manusia membuat usahanya masih berfokus melayani penjualan langsung di gerai. Ia berharap kapasitas produksi dapat terus bertambah seiring perkembangan usaha. Dengan begitu, layanan pemesanan dalam jumlah besar dapat dibuka kembali pada masa mendatang.
Selain menjaga kualitas produk, Linda juga memanfaatkan media sosial sebagai strategi pemasaran. Akun Instagram, TikTok, dan Facebook digunakan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun kedekatan dengan pelanggan.
Ia mengungkapkan nama Si Nyonya berasal dari usaha cendol yang pernah dijalankannya. Konsep merek tersebut kemudian dikembangkan bersama sang suami yang menangani desain dan pemasaran. "Yang ngurus branding, merek, sampai marketing semua suami saya. Aku fokus di produknya," tutur Linda.
Melalui pengalaman tersebut, Linda berharap semakin banyak anak muda berani memulai usaha dari kemampuan yang dimiliki. Menurutnya, keberhasilan bisnis tidak selalu berawal dari modal besar, melainkan dari keberanian mencoba, menjaga kualitas, dan terus berinovasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....