Keripik Tempe Sagu, Ikhtiar Ponpes Jati Salam Al Mabruriyah Tulungagung Mandiri

  • 08 Jul 2026 18:29 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Pondok Pesantren Jati Salam Al Mabruriyah mengembangkan usaha Keripik Tempe Sagu Mambaul Hikmah sebagai bagian dari strategi membangun kemandirian ekonomi lembaga sekaligus melatih keterampilan wirausaha para santri.
  • Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur memberikan pendampingan dalam peningkatan mutu produk dan penguatan tata kelola usaha untuk memperluas akses pasar produk pesantren.
  • Keripik Tempe Sagu Mambaul Hikmah diproduksi dengan standar kebersihan tinggi, dijual dalam kemasan 500 gram dengan harga Rp15 ribu, dan melibatkan santri dalam seluruh tahapan dari pengolahan hingga pemasaran.

RRI.CO.ID, Tulungagung – Di lingkungan Pondok Pesantren Jati Salam Al Mabruriyah, Dusun Talun, Desa Gombang, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, aroma tempe yang baru digoreng menjadi bagian dari aktivitas keseharian. Dari dapur sederhana itulah lahir Keripik Tempe Sagu Mambaul Hikmah, produk yang kini menjadi salah satu upaya pesantren membangun kemandirian ekonomi sekaligus melatih jiwa wirausaha para santri.

Bagi pesantren, usaha tersebut bukan sekadar menghasilkan produk pangan. Para santri dilibatkan dalam berbagai tahapan, mulai dari pengolahan, pengemasan hingga pemasaran. Melalui proses itu, mereka belajar bahwa bekal hidup tidak hanya diperoleh dari pendidikan agama, tetapi juga dari keterampilan mengelola usaha.

Sejak bergabung dalam program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur pada 2026, pengembangan usaha di Pondok Pesantren Jati Salam Al Mabruriyah mendapat pendampingan, baik dalam peningkatan mutu produk maupun penguatan tata kelola usaha. Program tersebut juga membuka peluang agar produk pesantren semakin dikenal oleh masyarakat.

Keripik Tempe Sagu Mambaul Hikmah dibuat dari bahan pilihan dengan proses produksi yang mengedepankan kebersihan. Cita rasanya gurih dengan tekstur renyah, dipasarkan dalam kemasan 500 gram dengan harga sekitar Rp15 ribu. Produk ini menjadi salah satu contoh usaha yang dikembangkan pesantren untuk memperkuat ekonomi sekaligus memberi nilai tambah bagi hasil olahan pangan lokal.

Pengurus Pondok Pesantren Jati Salam Al Mabruriyah, Berliana, mengatakan pengembangan usaha menjadi bagian dari proses pendidikan di lingkungan pesantren. "Kami ingin santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga pengalaman berwirausaha. Harapannya, mereka mampu mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat. Pendampingan dari OPOP juga memberi semangat bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas produk," ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal OPOP Jawa Timur, Gus Ghofirin, menilai setiap pesantren memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan sesuai karakter daerahnya. "Keripik Tempe Sagu Mambaul Hikmah menunjukkan bahwa pesantren mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pendampingan OPOP diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas, memperluas akses pasar, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak usaha produktif di lingkungan pesantren," katanya, dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 Juli 2026.

Melalui usaha tersebut, Pondok Pesantren Jati Salam Al Mabruriyah berharap dapat terus memperkuat kemandirian lembaga sekaligus membuka ruang belajar bagi para santri. Di balik renyahnya keripik tempe yang dihasilkan, tersimpan semangat bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bertumbuhnya ekonomi berbasis masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....