Kolaborasi Budaya dan Seni Musik Warnai Hari Kedua SSFF 2026
- 17 Mei 2026 08:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Perpaduan dunia olahraga, fashion, dan lifestyle dalam satu panggung mewarnai hari kedua Surabaya Sport Fashion Festival 2026 di Linear Atrium Ciputra World Surabaya, Sabtu, 16 Mei 2026, malam.
Pada hari kedua, SSFF 2026 mengangkat tema kolaborasi budaya dan seni musik melalui penampilan Grup Angklung LA Femina yang turut memeriahkan panggung utama acara. Penampilan tersebut menghadirkan alunan musik tradisional angklung khas Jawa Barat yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Kehadiran musik angklung di tengah festival modern ini memberikan nuansa etnik yang elegan sekaligus memperkuat semangat gaya hidup aktif dan kreatif yang menjadi identitas acara. Selain hiburan budaya, hari kedua SSFF 2026 juga diramaikan dengan fashion show yang menampilkan karya terbaik desainer dan brand Indonesia.
Sejumlah penampilan dibuka oleh KU-SEMAI, IFC–Indonesia Fashion Chamber, Tri Mutmainnah x Dwi Nur Salsabila Putri x Maharani Anggun Widjaja Ningtyas, Surabaya Jersey, Batik Ujong, Persana Jawa Timur (Dizza Batik, VHE, NU2NG), Corenation Activewear, hingga Fashion Show Angklung LA Femina. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa SSFF 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi wadah apresiasi bagi karya kreatif lokal.
Salah satunya, Damia Shoes yang menghadirkan sepatu batik modern dengan berkalaborasi KU-SEMAI, turut ambil bagian. Co-founder Rizka Chika mengungkapkan bahwa ide berawal dari besarnya potensi industri alas kaki di Jawa Timur. Menurutnya, daerah seperti Tanggulangin hingga para artisan sepatu di Surabaya menjadi inspirasi untuk menciptakan produk lokal yang memadukan unsur budaya dan desain modern.
“Jawa Timur sendiri menurut data statistik adalah salah satu produsen alas kaki terbesar di Indonesia. Saya melihat potensi itu, lalu muncul ide kenapa tidak membuat sesuatu yang modern tetapi tetap memasukkan unsur budaya melalui aksen kain batik di sepatu,” ujar Rizka Chika.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan sepatu batik di Damia Shoes tidak berlangsung secara instan karena membutuhkan berbagai tahap percobaan. Mulai dari penggunaan bahan canvas, synthetic leather, hingga genuine leather, semuanya diuji agar kain batik dapat menyatu dengan baik tanpa mengurangi kualitas dan kenyamanan sepatu.
“Awalnya tidak langsung jadi seperti sekarang karena kami harus memikirkan bagaimana kain batik itu bisa tetap kuat dan nyaman dipakai. Proses trial and error-nya sampai sekitar satu tahun hingga akhirnya menemukan formula yang pas,” katanya.
Dalam penampilannya di Surabaya Sport Fashion Festival 2026, Damia Shoes menghadirkan delapan look koleksi sepatu batik unisex. Rizka menyebut konsep unisex menjadi ciri khas Damia Shoes karena produk mereka dapat digunakan oleh perempuan maupun laki-laki.
“Kebanyakan sepatu batik identik dengan fashion perempuan seperti heels batik, sedangkan di Damia modelnya unisex. Jadi bisa dipakai cewek maupun cowok,” jelasnya.
Rizka juga menilai persaingan industri sepatu lokal sebagai hal positif yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk dalam negeri. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang bangga menggunakan produk lokal, khususnya sepatu batik karya anak bangsa.
“Semakin banyak brand lokal justru menjadi angin segar karena artinya masyarakat semakin aware dengan produk lokal. Ini kesempatan untuk terus menggaungkan sepatu lokal Indonesia,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan SSFF 2026 yang diinisiasi Vante Management, Damia Shoes maupun produk UMKM lainnya diharapkan mampu memperkuat posisi Surabaya sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia yang terus menghadirkan inovasi di bidang fashion dan lifestyle, sekaligus menjadi ruang berkembang bagi para desainer, brand, dan pelaku industri kreatif tanah air.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....