Siomay Sawargi Bandung, Usaha Turun-Temurun Keluarga
- 22 Feb 2026 14:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Usaha kuliner Siomay Sawargi Bandung yang kini berlokasi di Jalan Karah Agung V terus bertahan dan berkembang sebagai UMKM keluarga. Dirintis mandiri sejak 2013 oleh Diki Ahmad Haedar, usaha ini merupakan kelanjutan dari perjuangan orang tuanya yang telah berjualan sejak 2006. Meski sang ayah asli Garut, keluarga mereka sudah lama merantau ke Jawa Timur sejak 1987.
Diki menuturkan, perjalanan usaha keluarganya tidak selalu mulus. Saat terjadi tragedi lumpur Lapindo, orang tuanya sempat pindah dari Sidoarjo ke Lamongan karena ada keluarga yang menawarkan tempat tinggal. Di kota itulah, usaha siomay khas Bandung kembali dirintis dari awal.
“Orang tua saya asli Garut, tapi sejak 1987 pindah ke Sidoarjo. Waktu ada tragedi Lapindo, kami sempat ke Lamongan dan mulai lagi usaha siomay di sana,” ujarnya. Minggu, 22 Februari 2026.
Sejak 2013 hingga 2022, ia tinggal di Lamongan sebelum akhirnya bekerja di sebuah pabrik dan bertemu dengan istrinya, Triana, yang asli Surabaya. Setelah menikah, keduanya sepakat melanjutkan usaha keluarga dengan nama Sawargi, yang dalam bahasa Sunda berarti keluarga.
“Kami beri nama Sawargi supaya yang beli merasa seperti keluarga sendiri. Apalagi ini memang usaha turun-temurun,” ucapnya.
Dalam sehari-hari, usaha ini diproduksi oleh tiga orang, yakni Diki, sang istri, dan seorang karyawan yang masih sepupu. Produksi dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu karena sudah memiliki freezer untuk penyimpanan, sementara bahan sayuran seperti pare, kubis, kentang, dan telur selalu dimasak segar.
Siomay dijual seharga Rp15 ribu per porsi dengan tujuh macam isian. Usaha ini juga telah mengantongi izin PIRT dan sertifikat halal, serta tersedia di aplikasi ojek online dengan nama “Somay Sawargi Bandung”. Produk siomay frozen pun dititipkan di Resto Viaduk Gubeng Kertajaya.
Ia menambahkan, jam operasional buka setiap hari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dengan stok cadangan di rumah untuk mengantisipasi jika habis sebelum tutup. Khusus bulan Ramadan, penjualan dimulai selepas Asar hingga pukul 18.00 WIB.
Ia berharap usaha yang dirintis keluarganya ini dapat terus bertahan dan berkembang. “Harapan kami, semoga usaha ini semakin maju, berkembang, dan bisa membuka lapangan pekerjaan lebih luas,” ucapnya.