Pasar Furnitur Diproyeksi Tembus USD 1,1 Triliun, Kemenperin Dorong Digitalisasi

  • 04 Jun 2026 15:50 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Industri furnitur Indonesia berpeluang memperluas pasar ekspor seiring proyeksi pertumbuhan pasar furnitur global yang terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Data yang dipaparkan dalam Indowood Expo 2026 menunjukkan nilai pasar furnitur dunia diperkirakan tumbuh dari USD 736,21 miliar pada 2025 menjadi USD 1.160,84 miliar pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 5,2 persen.

Furnitur berbahan kayu diperkirakan tetap mendominasi pasar global dengan pangsa sekitar 62 persen pada 2026. Tren tersebut dinilai menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki ketersediaan bahan baku kayu melimpah serta industri pengolahan yang kuat untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Menyikapi peluang tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong percepatan digitalisasi industri furnitur nasional guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional. Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin, Andi Rizaldi, mengatakan digitalisasi menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat daya saing industri furnitur nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

"Apa yang dilakukan oleh HIMKI kami dukung. Dengan digitalisasi itu dapat membantu proses produksi, mengurangi cacat, serta meningkatkan produktivitas," kata Andi usai pembukaan Indowood Expo 2026 di Surabaya, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurutnya, digitalisasi furnitur mencakup penerapan teknologi pada seluruh rantai bisnis, mulai dari desain, otomatisasi produksi, hingga pemasaran secara daring. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan proses produksi menjadi lebih presisi, efisien, dan kompetitif.

Andi menilai langkah tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Indowood Expo 2026 yang mempertemukan pelaku industri kehutanan, pengolahan kayu, furnitur, teknologi, desain, investor, hingga pembeli internasional guna memperkuat rantai nilai industri hasil hutan Indonesia. Kemenperin juga mengapresiasi penandatanganan nota kesepahaman antara Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dengan penyedia layanan digitalisasi Labamu.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi di sektor furnitur nasional. "Saya salut dengan manufaktur furnitur ini. Dengan angka utilisasi 60 persen pun, angka ekspornya sudah mencapai 80 persen dari total produksi domestik mereka," ujarnya.

Andi menjelaskan tingkat utilisasi industri furnitur saat ini berada di kisaran 60 persen. Sementara nilai ekspor mebel Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1,9 miliar dolar AS dan pada 2025 berada di kisaran 1,8 miliar dolar AS.

Ia menambahkan, sektor manufaktur masih menjadi kontributor utama ekspor nasional dengan porsi hampir 80 persen terhadap total ekspor Indonesia. Karena itu, peningkatan daya saing industri furnitur diyakini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor nasional.

Terkait penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, Andi menilai kondisi tersebut justru membuka peluang bagi industri furnitur nasional. Sebab sekitar 80 persen penjualan produk furnitur Indonesia ditujukan ke pasar ekspor, sementara sekitar 60 persen bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Andi menegaskan pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan hilirisasi melalui larangan ekspor kayu bulat atau log. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus mendorong investasi pada industri pengolahan kayu nasional.

Pertumbuhan pasar furnitur global sendiri didorong oleh meningkatnya pendapatan masyarakat, urbanisasi, pembangunan perumahan, serta berkembangnya sektor komersial seperti perkantoran, hotel, dan fasilitas kesehatan. Selain itu, perkembangan e-commerce dan saluran digital turut memperluas akses pasar bagi produk furnitur.

Tren konsumen dunia juga mulai bergeser ke furnitur yang lebih fungsional dan multifungsi. Produk modular, material ramah lingkungan, hingga furnitur yang dilengkapi fitur tambahan seperti pengisian daya perangkat elektronik dan ruang penyimpanan tersembunyi semakin diminati pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....