Ekonom Universitas Airlangga Soroti Dampak Rupiah Melemah terhadap Industri

  • 19 Mei 2026 04:20 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ekonom dari Universitas Airlangga menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpotensi menekan perekonomian nasional. Kondisi ini dinilai berdampak luas karena industri Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

Pakar Ekonomi UNAIR, Prof. Imron Mawardi, mengatakan ketergantungan terhadap produk impor masih sangat tinggi. Hal itu terutama terlihat pada sektor industri yang banyak menggunakan bahan baku dan bahan penolong dari luar negeri.

“Banyak sekali industri kita masih tergantung pada produk-produk impor. Terutama bahan baku dan bahan penolong,” ujar Imron, Senin, 18 Mei 2026.

Menurutnya, bukan hanya bahan baku industri, sejumlah bahan pangan juga masih didominasi impor. Salah satunya bahan untuk produk makanan seperti roti yang disebut masih bergantung penuh pada pasokan luar negeri.

“Kalau kita bicara makanan seperti roti. Bahan utamanya bisa dikatakan 100 persen masih dari impor,” katanya.

Imron menegaskan pelemahan rupiah otomatis berdampak pada perekonomian nasional. Kenaikan biaya impor akan memicu tekanan pada berbagai sektor, termasuk transportasi dan distribusi barang.

Saat ini, pemerintah disebut masih berupaya menahan dampak tersebut melalui subsidi energi. Namun, kebijakan itu dinilai memiliki keterbatasan karena kemampuan fiskal pemerintah tidak tanpa batas.

“Pemerintah masih mencoba menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi. Tetapi kapasitas pemerintah juga terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika subsidi mulai dikurangi atau harga energi industri meningkat, dampaknya akan meluas ke masyarakat. Kenaikan biaya operasional sektor usaha berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap harga kebutuhan sehari-hari.

“Solar industri yang mahal akan menimbulkan multiplier effect. Dan akhirnya berdampak pada masyarakat,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar rupiah tercatat menembus Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....