Ekonom: Konflik Geopolitik Picu Kenaikan Harga BBM
- 30 Mar 2026 18:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, menilai konflik geopolitik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak global. Kondisi ini mendorong penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia secara bertahap.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah konsekuensi logis karena mengikuti pasar internasional,” kata Wisnu, Senin, 30 Maret 2026. Ia menegaskan mekanisme tersebut memang berbasis fluktuasi harga global.
Pada Februari hingga Maret 2026, harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, serta Pertamax Turbo menjadi Rp13.100.
Pertamax Green juga naik dari Rp12.450 menjadi Rp12.900 per liter. Sementara Dexlite naik menjadi Rp14.200 dan Pertamina Dex menjadi Rp14.500 per liter.
BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan harga. Keduanya tetap berada di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
“Kenaikan BBM nonsubsidi masih moderat, sekitar lima sampai sepuluh persen,” ujar Wisnu. Ia menilai kenaikan ini masih dalam batas wajar.
Wisnu menjelaskan harga BBM non-subsidi mengacu pada MOPS dan Argus sebagai indikator global. Selain itu, penyesuaian mengikuti regulasi Kementerian ESDM serta faktor kurs dan pajak.
“Variabel harga acuan dan kurs sangat dinamis, sehingga wajar terjadi penyesuaian harga,” katanya. Ia menambahkan badan usaha memiliki kewenangan menentukan harga eceran.
Lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel turut menekan fiskal. Setiap kenaikan satu dolar berpotensi menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun.
Meski demikian, pemerintah diperkirakan tidak terburu-buru menaikkan BBM bersubsidi. “Kebijakan penyesuaian harga menjadi opsi terakhir jika tekanan fiskal semakin berat,” ujarnya.
Di Asia Tenggara, beberapa negara telah menaikkan harga BBM sejak Februari 2026. Thailand dan Vietnam mengalami kenaikan lebih tajam karena mekanisme pasar penuh.
Malaysia relatif mampu menahan harga karena subsidi besar yang diberikan pemerintah. Sementara Singapura mencatat harga tertinggi akibat pajak energi dan tanpa subsidi.
Perbandingan tersebut menunjukkan posisi Indonesia masih relatif stabil. “Kenaikan moderat dan subsidi tetap menjadi bantalan daya beli masyarakat,” kata Wisnu.
Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026.
1. Indonesia (Pertamina)
RON 92: Rp12.300
RON 95: Rp12.900
RON 98: Rp13.100
Solar subsidi: Rp6.800
Dexlite (non-subsidi): Rp14.200
Pertamina Dex: Rp14.500
2. Malaysia
RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400
RON 97: ± Rp13.000
Solar (diesel): ± Rp10.000 – Rp11.500
3. Singapura
RON 95: ± Rp45.000
RON 98: Rp52.000 – Rp55.000
Solar (diesel): ± Rp45.000 – Rp47.000
4. Thailand
RON 92: ± Rp23.000
RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000
Solar (diesel): ± Rp17.000
5. Vietnam
RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000
RON 95: ± Rp25.000+
Solar (diesel): ± Rp20.000 – Rp21.000+
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....