Fear of Missing Out; Bijak Mengelola Keuangan di Era Digital

  • 28 Agt 2026 22:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Tren di media sosial hingga promo belanja digital bisa membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) ini dinilai berisiko mengganggu pengelolaan keuangan, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z).

Dosen Departemen Manajemen FEB Universitas K.H. Bahaudin Mudhary (UNIBA) Sumenep Madura, Evi Nur Safitri, S.E., M.E., mengatakan intensitas penggunaan media sosial membuat Gen Z semakin mudah melihat berbagai informasi mengenai gaya hidup, tren, hingga pengalaman orang lain.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan FOMO atau rasa takut tertinggal dari lingkungan sosial. Jika tidak dikendalikan, FOMO bisa mendorong seseorang melakukan pembelian impulsif.

"Ketika individu merasa perlu mengikuti tren atau tidak ingin tertinggal dari lingkungan sosialnya, dorongan tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya perilaku pembelian impulsif," ujar Evi dalam dialog di RRI Surabaya.

Evi menegaskan FOMO sebenarnya tidak selalu buruk. Keinginan mengikuti perkembangan zaman merupakan hal yang wajar. Persoalan muncul ketika rasa takut tertinggal mulai memengaruhi keputusan, termasuk dalam mengatur keuangan.

Dalam kondisi tersebut, seseorang bisa membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena tergiur diskon, mengikuti tren, atau melihat pengalaman orang lain di media sosial.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan itu dapat menyebabkan pengeluaran tidak terencana, sulit menabung, hingga mengganggu stabilitas keuangan pribadi.

"Bijak dalam mengelola keuangan berarti mampu mengendalikan diri dalam mengambil keputusan finansial, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta tidak mudah terpengaruh tekanan sosial maupun tren digital," jelasnya.

Dari perspektif manajemen, lanjut Evi, keuangan perlu direncanakan, diatur, dan dikendalikan karena uang merupakan sumber daya yang terbatas. Karena itu, pengelolaan keuangan tidak hanya membutuhkan literasi finansial, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri.

Lantas, bagaimana agar tidak mudah terbawa FOMO?

Evi menyarankan masyarakat memberikan jeda sebelum membeli barang yang sedang tren atau ditawarkan melalui promo digital. Salah satunya dengan menanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya dibeli karena takut tertinggal.

"Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya takut tertinggal?" katanya.

Selain menahan diri, masyarakat juga perlu membatasi paparan media sosial, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membuat anggaran berdasarkan kemampuan.

Hal yang sama berlaku ketika menggunakan layanan keuangan digital seperti e-wallet dan PayLater. Kemudahan transaksi, menurut Evi, jangan sampai membuat masyarakat semakin mudah melakukan pengeluaran tanpa perencanaan.

Ia mengatakan literasi keuangan dan kontrol diri berperan positif terhadap perilaku pengelolaan keuangan. Sebaliknya, FOMO dapat memberikan pengaruh negatif apabila membuat seseorang mengambil keputusan finansial secara tidak rasional.

"Pada akhirnya, mengelola FOMO bukan berarti menghindari teknologi, tetapi bagaimana kita tetap mampu mengendalikan diri dan menentukan prioritas keuangan," katanya mengakhiri

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....