Bukan Soal Miskin atau Kaya, Ini Kata Islam soal Boros dan Cara Mengelola Uang
- 14 Agt 2026 21:16 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Banyak orang mengira masalah keuangan hanya soal seberapa besar penghasilan yang dimiliki. Padahal, menurut Amanulloh, S.H.I., selaku Penyuluih Agama Islam KUA Kecamatan Tambaksari, persoalan sebenarnya sering kali bukan di situ, melainkan pada bagaimana seseorang mengendalikan pengeluarannya. Dalam segmen Cahaya Pagi di RRI Pro 4 Surabaya, Kamis, 13 Agustus 2026, ia mengajak pendengar melihat persoalan "Besar Pasak Daripada Tiang" ini dari kacamata ajaran Islam.
Amanulloh menjelaskan bahwa Al-Qur'an sebenarnya sudah memberi panduan yang cukup jelas soal ini sejak lama. Dalam Surat Al-Furqan ayat 67, disebutkan bahwa orang-orang yang baik adalah mereka yang tidak berlebihan dalam membelanjakan hartanya, tapi juga tidak pelit. Intinya, ada di tengah-tengah, tidak ke kiri dan tidak ke kanan.
Surat Al-Furqan Ayat 67 :
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Ia juga mengingatkan sebuah peringatan yang menurutnya cukup keras dalam Surat Al-Isra' ayat 27, yang menyebut orang boros sebagai saudara setan.
Surat Al-Isra Ayat 27 :
إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا
Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Bagi Amanulloh, ayat ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi lebih sebagai pengingat bahwa sikap boros itu punya konsekuensi nyata, bukan sekadar dosa di atas kertas. "Harta dalam Islam bukan sekadar alat untuk memenuhi keinginan, melainkan amanah dari Allah Swt. yang penggunaannya harus dipertanggungjawabkan," katanya.
Ia menambahkan, membeli sesuatu hanya karena gengsi atau ingin terlihat lebih mampu dari kondisi yang sebenarnya, pada akhirnya justru bisa menjerumuskan seseorang ke dalam utang. Dan menurutnya, ini adalah pola yang sering terjadi, terutama ketika seseorang merasa harus "setara" dengan lingkungan pergaulannya.
Menariknya, Amanulloh menegaskan bahwa Islam sama sekali tidak melarang seseorang untuk hidup nyaman. Punya rumah yang layak, kendaraan yang bagus, atau menikmati hasil kerja keras itu sah-sah saja. Yang jadi masalah, kata dia, adalah ketika semua itu dipaksakan di luar kemampuan, sampai harus berutang tanpa perhitungan yang jelas soal kemampuan membayarnya.
Ia pun mengajak pendengar untuk kembali pada prinsip kesederhanaan, bukan dalam artian hidup serba kekurangan, tapi lebih pada kemampuan mengendalikan diri dan menggunakan harta secara bijaksana sesuai kondisi masing-masing.
"Pesan ini terasa semakin relevan di tengah budaya konsumtif yang makin kuat saat ini, terutama bagi generasi muda yang setiap hari dihadapkan pada godaan gaya hidup dari berbagai arah. Saya juga berharap nilai-nilai ini bisa menjadi pengingat sederhana namun bermakna, bahwa rezeki yang baik bukan dilihat dari seberapa besar yang dihabiskan, melainkan seberapa bijak cara mengelolanya," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....