Gaji Habis sebelum Akhir Bulan? Ini Biang Kerok yang Sering Tak Disadari Anak Muda

  • 14 Agt 2026 20:55 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pernah merasa gaji baru cair, tapi belum juga masuk pertengahan bulan sudah menipis? Kalau iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini oleh orang tua dulu sering disebut "Besar Pasak Daripada Tiang" istilah untuk menggambarkan pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Dan menurut Amanulloh, S.H.I. selaku Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Tambaksari, masalah lama ini justru semakin sering terjadi di zaman serba digital seperti sekarang.

Dalam program Cahaya Pagi di RRI Pro 4 Surabaya, Kamis, 13 Agustus 2026, Amanulloh menjelaskan bahwa media sosial punya andil besar dalam membentuk cara orang membelanjakan uangnya. Setiap hari, kita melihat unggahan teman atau influencer memamerkan barang baru, liburan ke tempat kekinian, atau makan di kafe yang lagi hits.

Tanpa disadari, semua itu perlahan membentuk standar hidup yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan kemampuan kita sendiri. "Masalah muncul ketika seseorang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat sama dengan orang lain," ujar Amanulloh.

Ia menyoroti bagaimana kemudahan belanja online justru menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, semua jadi lebih praktis. Tapi di sisi lain, diskon besar-besaran, gratis ongkir, dan notifikasi "promo terbatas" seolah dirancang untuk membuat orang membeli barang yang sebenarnya tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Belum lagi ditambah godaan fitur paylater yang membuat belanja terasa "gratis" di awal, padahal sebenarnya cuma menunda masalah ke bulan depan. Menurutnya, banyak orang terjebak karena merasa mampu membayar cicilan kecil setiap bulan, tanpa sadar bahwa jumlah cicilan itu kalau ditotal ternyata sudah menggerus sebagian besar pendapatan.

Akibatnya, uang yang seharusnya bisa ditabung atau dipakai untuk kebutuhan penting malah habis untuk membayar utang konsumtif. Lalu bagaimana caranya keluar dari pola ini?

Amanulloh mengajak pendengar untuk membiasakan diri bertanya pada diri sendiri sebelum membeli sesuatu ini benar-benar saya butuhkan sekarang, atau saya hanya ikut-ikutan karena orang lain punya?

Ia menekankan bahwa kebutuhan dan keinginan itu dua hal yang berbeda. Kebutuhan adalah hal-hal yang memang harus dipenuhi, seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan.

Sementara keinginan sifatnya bisa ditunda, bahkan kalau perlu tidak dipenuhi sama sekali jika memang belum ada dananya.

"Sebelum membeli, sebaiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah ini benar-benar dibutuhkan sekarang, atau hanya dorongan untuk mengikuti tren dan lingkungan sekitar," katanya menegaskan.

Pesan sederhana ini mungkin terdengar klise, tapi menurut Amanulloh, justru karena sering diabaikan, banyak orang akhirnya terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....