Ekonom Unair: Pelemahan Rupiah Tak Lepas dari Gejolak Global

  • 06 Jun 2026 20:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis di atas Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian berbagai kalangan. Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Imron Mawardi mengomentari kondisi tersebut dinilai tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Menurut Imron Mawardi, Sabtu, 6 Juni 2026, hal itu dapat mempengaruhi pergerakan modal internasional. Imron menjelaskan salah satu faktor pelemahan nilai tukar rupiah adalah kemungkinan respons Amerika Serikat terhadap situasi global melalui kebijakan kenaikan suku bunga.

Menurutnya, ketika suku bunga di AS meningkat, instrumen investasi di negara tersebut menjadi lebih menarik bagi investor globa. Dikarenakan AS menawarkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi.

“Ketika Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga, investasinya menjadi lebih menarik. Karena keuntungan netto yang diperoleh juga meningkat,” ujar Prof. Imron Mawardi.

Kondisi tersebut mendorong investor untuk memindahkan dana mereka dari pasar keuangan negara berkembang. Negara berkembang tersebut termasuk Indonesia, menuju pasar keuangan AS.

“Banyak investor di pasar keuangan akan mengalihkan investasinya ke Amerika Serikat. Akibatnya mereka menjual saham maupun obligasi yang dimiliki di Indonesia,” katanya.

Setelah menjual aset investasinya, para investor kemudian mengonversi dana hasil penjualan tersebut ke dalam dolar AS. Langkah ini menyebabkan permintaan terhadap dolar meningkat di pasar valuta asing.

“Ketika hasil penjualan investasi ditukarkan ke dolar AS, permintaan dolar naik dan nilai rupiah menjadi melemah,” katamya. Prof. Imron menegaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dampak berantai ketegangan dan konflik yang masih berlangsung.

Situasi global yang memanas dinilai turut memengaruhi sentimen investor dan arah aliran modal internasional. “Ini merupakan salah satu dampak rentetan dari konflik dan panasnya situasi global dunia,” ujarnya.

Pelemahan rupiah hingga menyentuh level baru di atas Rp18.000 per dolar AS juga mendapat sorotan internasional. Salah satunya datang dari Xinhua, media massa terbesar asal China, yang menyoroti pergerakan Rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....