Financial FOMO vs Freedom

  • 26 Mei 2026 16:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID – Surabaya. Fenomena Financial FOMO atau Fear of Missing Out dalam kehidupan finansial masyarakat saat ini dinilai semakin marak terjadi, terutama di era media sosial yang penuh dengan tren gaya hidup dan investasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Dedy Surahman, SE, MM (Dosen Prodi Akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Surabaya) dalam dialog ekonomi di RRI Surabaya dengan tema “Financial FOMO vs Freedom”.

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Financial Fomo merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal tren keuangan, investasi, maupun gaya hidup yang sedang dilakukan orang lain. Fenomena tersebut sering kali membuat seseorang mengambil keputusan finansial secara implusif, seperti membeli barang mewah, mengikuti investasi berisiko, atau berutang demi terlihat sukses di lingkungan sosial maupun media sosial.

Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi munculnya Financial FOMO, yaitu rasa takut menyesal jika tidak mengikuti tren serta terpengaruh lingkungan sosial yang membuat seseorang merasa harus melakukan hal yang sama dengan orang lain. Akibatnya, banyak individu mengambil keputusan keuangan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial maupun risiko jangka Panjang yang dapat ditimbulkan.

Dalam dialog tersebut juga disampaikan contoh nyata mengenai seseorang yang telah mencapai kebebasan finansial, namun akhirnya kembali mengalami tekanan ekonomi akibat mengikuti tren gaya hidup dan investasi yang berlebihan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Financial FOMO dapat mengganggu kestabilan finansial seseorang bahkan setelah memiliki kondisi ekonomi yang cukup baik.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kebiasaan finansial atau Finansial Freedom bukan sekadar memiliki banyak uang, melainkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan hidup tanpa tekanan maslah keuangan. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan pengelolaan keuangan yang disiplin, pengendalian diri, serta kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Dr. Dedy Surahman juga menekankan pentingnya pengendalian diri dalam mengatur keuangan, terutama di tengah meningkatnya gaya hidup konsumtif di kalangan masyarakat. Kenaikan pendapatan sering kali diikuti dengan peningkatan gaya hidup, sehingga seseorang sulit menabung maupun berinvestasi untuk masa depan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang terus terjebak dalam tekanan finansial meskipun memiliki penghasilan yang lebih tinggi.

Sebagai solusi, masyarakat dianjurkan untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial, seperti memberikan jeda waktu sebelum membeli barang atau mengikuti investasi tertentu, melakukan pengelolaan keuangan secara otomatis melalui tabungan dan investasi rutin, serta mengubah pola pikir mengenai arti kekayaan yang sebenarnya. Menurutnya, kekayaan tidak hanya diukur dari barang atau kemewahan yang dimiliki, tetapi juga dari kebebasan dalam mengatur waktu dan kehidupan.

Di akhir dialog, disampaikan bahwa masyarakat perlu lebih hati-hati terhadap pengaruh media sosial yang sering kali hanya menampilkan sisi kemewahan tanpa memperlihatkan kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memiliki tujuan finansial yang jelas dan tidak mudah terpengaruh oleh tren sesaat demi menjaga kestabilan ekonomi jangka panjang.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....