63 Persen Pekerja Belum Siapkan Dana Pensiun

  • 03 Apr 2026 08:24 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Mempersiapkan dana hari tua selayaknya menjadi prioritas. Namun perencanaan hari tua kerap ditunda, terutama bagi mereka yang memiliki tanggung jawab ganda dalam keluarga. Padahal, menunda justru menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam pengelolaan keuangan jangka panjang.

Namun bagi Sari, 30 tahun, mempersiapkan dana hari tua sempat bukan menjadi prioritas. Sebagai pekerja yang juga membantu orang tua, sebagian besar penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Kisah Sari mencerminkan realitas banyak pekerja saat ini.

Situasi ini semakin mengkhawatirkan. Sekitar 63 persen pekerja di Indonesia belum memiliki dana hari tua. Dampaknya, tidak sedikit yang berpotensi tetap bekerja di usia lanjut atau bergantung pada orang lain. Kondisi ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya jumlah penduduk usia tua, di mana masa pensiun bisa berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

Di sisi lain, kebutuhan hidup terus meningkat. Biaya kesehatan cenderung naik seiring bertambahnya usia, sementara biaya hidup juga tidak pernah turun. Tanpa perencanaan yang matang, risiko kehabisan dana di masa tua menjadi ancaman nyata.

Priskilla Fachruddin, Certified Financial Planner dari Prudential Indonesia, menyebut langkah awal mempersiapkan masa pensiun sebenarnya cukup sederhana.

“Dalam mempersiapkan masa hari tua, kita perlu bertanya pada diri sendiri: pada usia berapa ingin berhenti bekerja dan gaya hidup seperti apa yang diinginkan. Dari sini, seseorang bisa mulai menentukan alokasi pendapatan setiap bulan, lalu menjalankannya secara disiplin dan konsisten,” ujar Priskilla, dalam rilis yang diterima RRI, Jumat, 3 April 2026.

Menurutnya, kebutuhan dana pensiun bisa diperkirakan dari gaya hidup saat ini. Sekitar 75–80 persen untuk gaya hidup lebih sederhana, 90–100 persen untuk mempertahankan gaya hidup, dan 120–125 persen jika ingin hidup lebih aktif, seperti traveling atau mengejar impian yang sempat tertunda.

Sari pun mulai mengubah cara pandangnya. Dengan penghasilan Rp 10 juta per bulan, ia menargetkan pensiun di usia 55 tahun dengan gaya hidup lebih sederhana. Ia bahkan memiliki rencana membuka usaha bakery rumahan sebagai bagian dari impiannya di masa depan

Untuk mewujudkannya, Sari mulai menyusun perencanaan keuangan secara bertahap. Salah satu opsi yang dipilih adalah asuransi jiwa seperti PRUMapan dari Prudential, yang dirancang untuk membantu perencanaan jangka panjang.

Dengan menyisihkan Rp700 ribu per bulan, atau kurang dari 10 persen penghasilannya, Sari mulai membangun dana pensiun. Jika konsisten hingga usia 55 tahun, ia berpotensi mendapatkan manfaat ratusan juta rupiah. Bahkan, jika memulai lebih awal, hasil yang diperoleh bisa jauh lebih besar.

Langkah kecil ini menjadi bukti bahwa persiapan hari tua tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Justru konsistensi menjadi kunci utama. Dibandingkan pengeluaran untuk hiburan atau gaya hidup, alokasi dana pensiun sering kali jauh lebih kecil, namun dampaknya sangat besar di masa depan.

Pada akhirnya, menyiapkan dana hari tua bukan sekadar soal angka, melainkan tentang kesiapan menghadapi kehidupan setelah tidak lagi produktif bekerja. Memulai lebih awal, meski dengan nominal terbatas, dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga kemandirian finansial dan mewujudkan impian di masa pensiun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....