Perputaran Ekonomi Lebaran. Siapa untung? Siapa tertekan?
- 01 Apr 2026 11:40 WIB
- Surabaya
RRI. CO. ID, Surabaya – Momentum Lebaran 2026 mendorong peningkatan signifikan jumlah uang tunai yang berdar di masyarakat. Lembaga riset NEXT Indonesia Center mencatat, uang kartal yang disiapkan untuk kebutuhan periode Idul Fitri tahun ini mencapai Rp1.370 triliun. Angka tersebut meningkat sebesar 10,4% atau sekitar Rp130 triliun dibandingkan Lebaran 2025 yang sebesar Rp1.240 triliun, sebagaimana diungkapkan Budi Wahyu Mahardika , SE, ST, MM, CRP, AFA (Kepala Biro Administrasi Keuangan dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya). Dalam dialog ekonomi di RRI Surabaya
Peningkatan ini mencerminkan menguatnya daya beli sekaligus kesiapan konsumsi rumah tangga. Selain itu, jumlah dana yang langsung dipegang masyarakat juga mengalami kenaikan. Dana siap belanja di luar sistem perbankan tercatat mencapai Rp1.241 triliun, naik Rp104 triliun atau 9,15% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp1.137 triliun.
"Tambahan likuiditas ini menjadi dorongan kuat bagi perekonomian daerah, terutama di wilayah tujuan mudik." ujarnya.
Di balik peningkatan tersebut, terdapat pihak-pihak yang diuntungkan. Sektor ritel dan pariwisata menjadi yang paling merasakan dampaknya melalui lonjakan belanja masyarakat serta aktivitas liburan. UMKM juga mengalami peningkatan omzet yang signifikan, bahkan hingga empat kali lipat, seiring tingginya permintaan produk khas Lebaran.
Namun demikian, tidak semua pihak berada dalam posisi yang menguntungkan. Beberapa sektor justru menghadapi tekanan. Dari sisi perusahaan, khususnya manajemen SDM, terdapat risiko meningkatnya angka pengunduran diri karyawan pasca-Lebaran.
"Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$115 per barel turut mendorong meningkatan biaya produksi, terutama pada bahan baku, ujar Budi.
Tekanan juga dirasakan oleh pemudik yang tidak memiliki perencanaan keuangan matang. Beban finansial meningkat akibat pengeluaran untuk perjalanan, berbagi rezeki, serta kebutuhan lainnya. Sementara itu, konsumen umum turut terdampak oleh kenaikan konsumsi BBM dan potensi lonjakan harga kebutuhan pokok yang memicu inflasi. Meskipun daya beli masyarakat membaik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tetap terbatas di angka 4,8%.
Ancaman kenaikan harga BBM pada April mendatang juga menjadi perhatian serius. Lonjakan harga minyak dunia yang disertai pelemahan nilai tukar rupiah dinilai meningkatkan tekanan terhadap biaya energi. Kondisi ini memunculkan spekulasi adanya penyesuaian harga BBM dalam waktu dekat. Jika harga tidak dinaikkan, dikhawatirkan akan terjadi defisit anggaran yang cukup besar. Lalu, apa yang perlu dilakukan masyarakat?
Masyarakat diimbau untuk mejaga likuiditas keuangan keluarga dengan menahan diri dari pembelian barang-barang tersier atau mewah. Di tengah potensi kenaikan harga akibat inflasi, pengelolaan keuangan yang efektif dan efisien menjadi kunci utama. Gaya hidup sederhana dan penyesuaian pengeluaran dengan kondisi keuangan perlu diterapkan.
Selain itu, penting untuk memiliki dana cadangan, minimal untuk memenuhi kebutuhan selama tiga bulan. Masyarakat juga disarankan mulai belajar berinvestasi, meskipun dari nominal kecil, sebagai langkah menjaga stabilitas finansial di masa depan, pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....