Hindari Investasi Bodong Beralih ke Surat Utang
- 15 Okt 2025 14:19 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Program Dialog Ekonomi di Pro 4 RRI Surabaya dengan tema “Investasi Boncos? Yuk Beralih ke Investasi Surat Utang” menghadirkan narasumber Dr. Mudjilah Rahayu, M.M., Dosen Tetap Prodi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya, Rabu (15/10). Dalam dialog tersebut, Mudjilah mengajak pendengar Pro 4 RRI Surabaya untuk mulai memahami pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini serta memilih instrumen investasi yang aman dan legal.
Mudjilah menekankan pentingnya disiplin finansial dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyarankan setiap orang menyisihkan sebagian pendapatannya untuk investasi. “Kita harus menyisihkan pendapatan tetap kita 10%. Jangan sampai kita itu bekerja tanpa arah keuangan. Kalau kita punya hutang, boleh hutang produktif, tapi maksimal 35% dari pendapatan. Dana yang ada sebaiknya diinvestasikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mudjilah memaparkan empat tahapan siklus kehidupan keuangan seseorang, yaitu tahap konsolidasi, akumulasi, spending, dan granting. Pada tahap konsolidasi, seseorang berfokus memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Sementara pada tahap akumulasi, seseorang mulai menabung dan berinvestasi untuk menumbuhkan kekayaan. “Sejak awal kita bekerja, semakin baik kita sadar pentingnya manajemen keuangan untuk mencapai financial freedom,” tambahnya.
Menurutnya, financial freedom atau kebebasan finansial hanya bisa dicapai bila seseorang disiplin mengelola pendapatan, tidak memiliki hutang konsumtif, dan memiliki dana darurat yang cukup. Pada masa granting, seseorang tinggal menikmati hasil kerja kerasnya tanpa beban finansial. “Di tahap granting itu kita harus benar-benar bebas dari hutang, punya dana darurat, dan hidup dengan tenang. Itulah puncak financial freedom,” ungkap Mudjilah.
Dalam dialog, Mudjilah juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai berbagai bentuk investasi bodong yang marak terjadi. Ia mencontohkan banyaknya koperasi atau arisan yang menawarkan imbal hasil tinggi tanpa aktivitas produktif yang jelas. “Kalau ada yang menjanjikan imbal hasil 10% per bulan, itu tidak logis. Bisnis apa yang bisa menghasilkan 60% setahun? Itu skema ponzi. Hati-hati, karena awalnya lancar tapi ujungnya hilang,” tegasnya.
Sebagai solusi, Mudjilah menyarankan masyarakat untuk beralih pada instrumen investasi yang aman seperti surat utang negara, misalnya Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau Sukuk Ritel (SR). “Surat utang negara itu aman karena diterbitkan dan dijamin oleh pemerintah. Bunganya dibayarkan setiap bulan, dan jika butuh dana, surat utang itu bisa dijual di pasar sekunder,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, tenor ORI biasanya 3 atau 6 tahun dengan bunga sekitar 6-7% per tahun. Masyarakat bisa membelinya melalui mitra distribusi seperti bank atau aplikasi investasi resmi. “Misalnya ORI tenor 6 tahun dengan bunga 6,95%, aman karena dijamin negara. Kalau harga pasar naik, bisa dijual dan dapat capital gain. Kalau tidak mau risiko pasar, cukup tahan sampai jatuh tempo,” ujar Mudjilah menutup dialog.
Mudjilah mengajak masyarakat untuk semakin cerdas dan berhati-hati dalam berinvestasi. Dengan memahami konsep keuangan pribadi dan memilih instrumen yang aman, masyarakat dapat menuju financial freedom tanpa terjebak pada investasi bodong yang merugikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....