PENS-Kadin Jatim dan Swisscontact Selaraskan Kurikulum Kebutuhan Industri

  • 05 Sep 2026 21:05 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • PENS gandeng Kadin Jatim, Kadin Institute dan Swisscontact gelar FGD Job Analysis Network Engineer 4-5 September 2026 untuk selaraskan kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri.
  • Enam perusahaan panelis: PT Satoria, Radnet Digital, Solusi Media Digital, Cyberindo Aditama, Naraya Telematika dan Biznet Networks beri gambaran kompetensi Network Engineer lapangan.

RRI.CO.ID, Surabaya - Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Kadin Institute, dan Swisscontact untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Job/Occupation Analysis (JOA) untuk okupasi Network Engineer yang digelar di Surabaya selama dua hari, Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu, 5 September 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan link and match yang lebih konkret antara pendidikan tinggi vokasi dan industri. Melalui JOA, perguruan tinggi tidak hanya meminta masukan industri mengenai kurikulum yang sudah disusun, tetapi menggali langsung pekerjaan, tugas, tanggung jawab, hingga kompetensi yang dibutuhkan seorang Network Engineer di lapangan.

Enam perusahaan dilibatkan sebagai panelis, yakni PT Satoria, PT Radnet Digital Indonesia, PT Solusi Media Digital, PT Cyberindo Aditama, PT Naraya Telematika, serta PT Supra Primatama Nusantara (Biznet Networks). Para ahli dari industri tersebut memberikan gambaran mengenai kebutuhan kompetensi berdasarkan pekerjaan sehari-hari.

Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, mengatakan kolaborasi antara kampus, industri, Kadin Jatim, Kadin Institute, dan Swisscontact menjadi langkah penting untuk mewujudkan link and match yang selama ini masih menjadi tantangan.

“Selama ini kalau kita melihat link and match, link saja, match-nya belum. Kami berharap melalui kolaborasi ini industri, kampus, dan fasilitasi dari Swisscontact dapat menciptakan wadah baru untuk bersama-sama menyusun kurikulum yang sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil dari kegiatan tersebut diharapkan menjadi Industry Based Curriculum (IBC) yang dapat diterapkan tidak hanya di PENS, tetapi juga direplikasi di kampus maupun institusi pendidikan vokasi lainnya. PENS dinilai menjadi salah satu pelopor penerapan pendekatan tersebut di Jawa Timur.

Wakil Direktur PENS, Prof. Moch. Zen Samsono Hadi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi PENS karena kampus sedang melakukan revisi kurikulum di seluruh program studi. Revisi kurikulum yang umumnya dilakukan setiap empat hingga lima tahun dinilai menjadi waktu tepat untuk mendapatkan masukan langsung dari industri.

“Jadi nantinya kurikulum yang kami buat benar-benar sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak industri. Kami ingin mendapatkan masukan tentang kompetensi apa yang dibutuhkan, sertifikasi apa yang diperlukan, termasuk soft skill yang harus diberikan kepada mahasiswa,” katanya.

Menurut Zen, kolaborasi dengan industri tidak akan berhenti pada kegiatan FGD selama dua hari. PENS juga menyiapkan sejumlah program lanjutan, termasuk proses hilirisasi, agar kerja sama dengan industri dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa maupun institusi.

“Harapan kami, dari pihak industri tidak bosan selama dua hari berkumpul dengan pihak kampus untuk meramu apa yang sesuai dan apa yang pas diberikan kepada mahasiswa yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia 2045,” ujarnya.

Senior Program Officer SS4C Swisscontact, Benaya Jaya, menjelaskan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri penting untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Melalui pendekatan IBC, industri dilibatkan secara langsung dalam penyusunan kurikulum, salah satunya melalui JOA untuk menggali kebutuhan kompetensi berdasarkan pekerjaan nyata.

“Outcome dari kegiatan ini adalah sekolah dan perguruan tinggi, terutama pendidikan vokasi, memiliki kurikulum yang selaras dengan industri. Dengan kurikulum yang selaras, nantinya lulusan bisa langsung dipakai oleh industri untuk bekerja sehingga peluang kerjanya menjadi lebih besar,” jelasnya.

Dalam proses JOA, enam panelis dari enam perusahaan berbeda dengan okupasi yang sama, yakni Network Engineer, memberikan informasi mengenai tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang diperlukan, serta perkembangan pekerjaan tersebut. Para panelis memiliki pengalaman minimal lima tahun dan masih menjalankan pekerjaan sebagai Network Engineer, sehingga informasi yang diperoleh dinilai relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, mengatakan pendekatan tersebut mendorong perubahan paradigma dalam penyusunan kurikulum, dari supply driven menjadi demand driven. Jika sebelumnya kurikulum disusun terlebih dahulu oleh institusi pendidikan kemudian diverifikasi industri, melalui pendekatan ini kebutuhan pekerjaan dianalisis lebih dulu sebelum diterjemahkan menjadi kurikulum.

“Kita ingin merubah dari supply driven curriculum menjadi demand driven curriculum. Yang dilakukan awal adalah analisis dulu dari pekerjaan industri, baru itu ditransfer atau diterjemahkan menjadi kurikulum yang ada,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....