Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan BBM dan Ancaman Inflasi

  • 05 Mei 2026 11:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Efek domino penutupan Selat Hormuz oleh Iran mulai terasa pada sektor energi Indonesia. Penyesuaian harga BBM non-subsidi April 2026, dikhawatirkan akan berdampak pada inflasi.

Kenaikan mencakup Pertamina Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di berbagai wilayah. Dampaknya memicu kekhawatiran inflasi serta perubahan pola konsumsi masyarakat.

Guru Besar FEB UNAIR, Prof Wasiaturrahma, menilai dampak inflasi masih terbatas. “Kenaikan ini diproyeksikan menyumbang inflasi nasional sekitar 0,06%,” ujarnya, Senin, 4 Mei 2026.

Namun tekanan rupiah mendekati Rp17.200 per dolar AS meningkatkan risiko inflasi. Kondisi ini dapat memperbesar dampak kenaikan harga energi.

“Harga bisa berbeda antarprovinsi, seperti Sumatera Utara dan Kalimantan lebih tinggi,” ujarnya. “Selisihnya berkisar Rp300 hingga Rp600 dibanding wilayah lain."

Risiko berikutnya adalah migrasi konsumsi BBM ke jenis lebih murah. Pengguna Dexlite berpotensi beralih ke Bio Solar, sementara Turbo ke Pertamax.

Jika terjadi masif, beban kompensasi pemerintah kepada Pertamina akan meningkat. Pengawasan QR Code dan integrasi data kendaraan perlu diperketat.

“Penggunaan BBM tidak sesuai spesifikasi berisiko merusak mesin kendaraan,” katanya. Edukasi konsumen dinilai penting untuk mencegah dampak tersebut.

Kenaikan harga BBM non-subsidi bertujuan menjaga defisit anggaran tetap terkendali. Namun migrasi ke BBM subsidi dapat menggagalkan tujuan tersebut.

“Jika pengguna high-end beralih ke subsidi, beban anggaran justru meningkat,” ujarnya. “Volume subsidi bisa jebol dan membebani keuangan negara."

Revisi Perpres Nomor 191 Tahun 2014 perlu segera diselesaikan pemerintah. Aturan ini mengatur kriteria kendaraan pengguna BBM subsidi berbasis kapasitas mesin.

Langkah struktural dinilai lebih efektif dibanding sekadar menaikkan harga BBM. Kebijakan ini penting untuk menjaga distribusi subsidi tepat sasaran.

Pemerintah juga perlu mendorong transisi menuju kendaraan listrik secara bertahap. Penguatan transportasi publik dibutuhkan agar aktivitas ekonomi tetap stabil.

“Transformasi energi adalah investasi jangka panjang, bukan respons sesaat,” ujarnya. “Kendaraan listrik kini menjadi alternatif strategis di tengah volatilitas minyak."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....