Konflik Amerika Serikat–Iran Berpotensi Tekan Pangan Ekspor Jatim
- 02 Mar 2026 17:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada ekonomi Jawa Timur. Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur mengingatkan potensi tekanan energi, kurs, dan logistik internasional.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, meminta respons cepat dan terukur. Jawa Timur perlu menjaga stabilitas sebagai motor ekonomi nasional.
“Dampak utama konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur setidaknya datang dari dua arah, yakni hubungan dagang langsung dengan kawasan tersebut serta efek berantai melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global,” ujar Adik, Senin, 2 Maret 2026.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Kawasan itu sangat sensitif terhadap konflik geopolitik.
Ketegangan berpotensi menaikkan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran. Dampaknya terasa pada biaya transportasi dan distribusi barang.
Tekanan nyata diperkirakan muncul pada sektor pangan impor, terutama kedelai. Indonesia mengimpor sekitar 2,5–3 juta ton kedelai per tahun.
Nilai impor kedelai dari Amerika Serikat mencapai lebih dari US$1 miliar. Jawa Timur sangat bergantung sebagai sentra industri tempe dan tahu.
Kenaikan harga minyak dan ongkos kirim meningkatkan landed cost kedelai. Risiko bertambah jika rupiah melemah akibat sentimen risk-off global.
“Pelaku UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak, opsi yang tersisa bisa berupa kenaikan harga jual, penyusutan ukuran produk, atau bahkan penghentian produksi sementara,” kata Adik.
Kedelai juga menjadi bahan baku bungkil pakan ternak. Kenaikan harga pakan berpotensi mendorong inflasi ayam dan telur.“Kita memang tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama,” tegas Adik.
Wakil Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Tommy Kaihatu, menyebut kinerja ekspor masih solid. Nilai ekspor mencapai USD30 miliar dengan surplus lebih USD800 juta.
“Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar USD 30 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari USD 800 juta, dan sekitar 10 persen di antaranya ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah,” ujar Tommy.
Eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor. "Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus. Di sisi lain, ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar tujuan ekspor,” jelasnya.