Telur Diduga Pemicu Ratusan Siswa Mojokerto Keracunan MBG
- 16 Jan 2026 15:40 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Mojokerto – Buntut dugaan keracunan Program Makan Bergizi (MBG) yang dialami 411 orang di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pemerintah daerah setempat bergerak menelusuri penyebab kejadian dan menangani masyarakat terdampak.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyelidikan sementara, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra menyoroti telur ayam rebus yang menjadi salah satu komponen menu MBG soto ayam tersebut.
Pemerintah daerah bersama sejumlah pihak terkait, di antaranya Dinas Kesehatan, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Labkesda Kabupaten Mojokerto, serta gabungan ahli gizi, melakukan asesmen pada Kamis malam, 15 Januari.
Asesmen dilakukan pada seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari penyiapan bahan, proses memasak, hingga penyajian kepada para penerima.
Bupati Al Barra menyebut telur ayam rebus pada menu soto ayam tersebut diduga kuat dalam kondisi kurang higienis sehingga menyebabkan keracunan massal terhadap pelajar, santri, dan orang dewasa yang mengonsumsinya.
"Karena ada juga korban yang hanya mencicipi telurnya saja. Kan menunya soto ayam, tinggal sedikit telur dimakan oleh ibunya. Akhirnya adiknya, kakaknya, ibunya juga kena," kata Bupati yang akrab disapa Gus Barra kepada RRI.CO.ID.
Bupati menyebut keracunan yang menimpa ratusan anak dari jenjang TK, SD, hingga SMP tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yakni bahan baku, cara pengolahan, dan waktu penyajian.
"Bisa jadi penyimpanan telurnya, karena penyimpanan itu harus suhunya minus lima supaya awet. Nah, kemarin waktu ke sana kurang dari itu, minus lima itu," ungkap Gus Barra.
Sebelumnya diberitakan, ratusan siswa dari berbagai sekolah di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu soto ayam MBG yang disediakan oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang di Desa Wonodadi, Kutorejo.
Menu tersebut didistribusikan pada Jumat, 9 Januari 2026, sekitar pukul 08.30 WIB. Gejala klinis keracunan mulai dirasakan para pelajar dan santri pada Jumat malam hingga Sabtu pagi, 10 Januari 2026. Para korban mengalami pusing, mual, muntah, demam, dan diare.
Pemkab Mojokerto mengunci data jumlah korban di angka 411 orang. Dari jumlah tersebut, tersisa dua korban yang masih menjalani rawat inap hingga Kamis malam, 15 Januari.
Selain itu, selama proses investigasi, BGN juga menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
Setiap harinya, SPPG yang beroperasi sejak 22 September 2025 ini menyediakan 2.679 porsi MBG. Dapur MBG tersebut menyuplai makan bergizi gratis untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....