Cek Fakta: Kenali Ciri-ciri Hoaks di Media Sosial

  • 20 Okt 2025 11:43 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Di era media sosial yang serba cepat, arus informasi datang tanpa henti. Satu unggahan bisa membentuk opini publik, mengguncang kepercayaan, bahkan memicu perpecahan. Di balik layar ponsel, hoaks bekerja diam-diam, menyusup lewat emosi, dan sering kali memecah belah masyarakat.

Fenomena ini menjadi fokus dalam dialog interaktif CEK FAKTA bertema “Mengenali Ciri-Ciri Hoaks yang Banyak Beredar di Media Sosial”, Senin (20/10/2025).

M. Ridwan Hidayat dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Sidoarjo, mengatakan saat ini, hoaks mudah menyusup ke kehidupan digital karena manusia cenderung mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan atau emosi mereka. "Banyak orang pintar pun bisa terjebak hoaks, karena bukan soal cerdas atau tidak, tapi soal literasi dan kendali emosi," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hoaks memiliki pola khas yang mudah dikenali. Di antaranya, judul sensasional, sumber yang tidak jelas, serta ajakan untuk segera membagikan tanpa verifikasi.

"Kalau sebuah berita membuat kita marah, takut, atau bangga secara berlebihan, berhentilah sejenak. Itu bisa jadi hoaks," ucapnya.

Peran emosi, lanjutnya, sangat besar dalam penyebaran hoaks. Algoritma media sosial pun turut serta memperkuatnya. Karena semakin tinggi interaksi emosional, semakin sering konten itu muncul di beranda pengguna.

"Kita harus sadar, platform tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pengguna juga perlu bertanggung jawab dengan memeriksa ulang sebelum membagikan sesuatu," katanya.

Dalam era kecerdasan buatan (AI), banyak tantangan baru muncul. Gambar editan dan video deepfake semakin sulit dibedakan dari yang asli. Untuk itu, MAFINDO kini menggunakan teknologi deteksi visual dan kolaborasi lintas komunitas untuk menelusuri sumber informasi palsu, salah satunya dengan metode WAKUNCAR (Waspada, Kunjungi, Cari) informasi tersebut apakah benar atau tidak.

"Hoaks tidak lagi sederhana, tapi kita juga harus semakin cerdas menanggapinya," ujarnya.

Terkait literasi digital, MAFINDO menilai masyarakat perlu memperkuat kemampuan critical thinking dan verifikasi informasi. Literasi bukan hanya soal bisa mengakses internet, tetapi juga memahami konteks dan niat di balik sebuah pesan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....