Syekh Yusuf dan Tantangan Mengenalkan Ulama kepada Generasi Z
- 16 Sep 2026 20:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Warisan pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai perlu dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Empat abad setelah kelahirannya, pemikiran ulama asal Sulawesi Selatan itu dinilai tetap relevan untuk dikenalkan melalui berbagai medium digital.
Hal itu terungkap pada temu narasi, yang mengangkat tema "Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman”. Kegiatan ini digelar Kementerian Kebudayaan RI berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur.
Dosen Filologi dan Sejarah Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr Ginanjar Sya’ban, mengatakan pemikiran Syekh Yusuf perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami anak muda. Sehingga mudah diterima mereka.
“Kalau kita ngasih ke anak muda manuskrip yang rumit, jangankan yang muda, yang tua saja ogah. Jadi kita harus mencari cara bagaimana pemikiran Syekh Yusuf bisa dikemas dengan bahasa yang lebih mudah,” ujar Ginanjar, Rabu 16 September 2026.
Menurut Ginanjar, pemikiran Syekh Yusuf, termasuk konsep Insan Kamil, dapat dikemas melalui film, video pendek, infografis, komik, hingga konten digital. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat gagasan ulama Nusantara lebih dekat dengan generasi muda.
“Pemikiran Syekh Yusuf itu jangan berhenti di buku, disertasi, tesis, atau jurnal. Kita bisa mengemasnya dalam film, video pendek, infografis, komik, maupun konten digital,” katanya.
Ginanjar menyebut Syekh Yusuf merupakan salah satu ulama Nusantara yang memiliki karya dan jaringan keilmuan hingga dunia Islam global. Ia juga menilai tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdus Samad Al-Palimbani, dan Nawawi Al-Bantani dapat dikenalkan kepada generasi muda.
“Indonesia ini belum ada yang pakai nama ini. Padahal kita punya banyak sekali. Kita punya Syekh Yusuf dan banyak ulama lain yang karya-karyanya sudah terhubung dengan dunia Islam global,” ujar Ginanjar.
Sementara itu, Peneliti Ulama Indonesia, KH Ahmad Kholily Kholil, mengatakan Syekh Yusuf tidak hanya dikenal karena perjuangannya melawan kolonialisme. Pemikirannya tentang tasawuf dan perlawanan terhadap kezaliman juga menjadi bagian dari warisan yang dapat dipelajari generasi sekarang.
“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial, bukan anti orang asing,” kata Kholily.
Syekh Yusuf lahir di Tallo, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626 dan menempuh perjalanan keilmuan hingga Aceh, Banten, Mekkah, Yaman, dan Damaskus. Ia kemudian diasingkan ke Ceylon dan Cape Town setelah berjuang bersama Sultan Ageng Tirtayasa sebelum wafat pada 1699.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....