Tak Harus Terkenal di Bumi untuk Mulia di Langit
- 15 Sep 2026 16:21 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sumenep — Di tengah zaman ketika popularitas kerap menjadi ukuran keberhasilan, dikenal banyak orang bukan selalu berarti memiliki nilai lebih di hadapan Allah. Ukuran kemuliaan justru bisa berada pada sesuatu yang tidak terlihat: keikhlasan dan kedekatan seorang hamba kepada-Nya.
Pesan itu disampaikan Ustaz Mahmudi, dalam kajiannya di Pondok Pesantren Modern Kulliyatul Mu'allimin Al Islamiah (KMI) Bahaudin, Jalan Kartini 17 Pamolokan, Kabupaten Sumenep. Mengangkat tema “Banyak yang Terkenal di Bumi, tapi Belum Tentu Terkenal di Langit”, ia mengajak jamaah kembali bertanya kepada diri sendiri tentang tujuan hidup dan amal yang dilakukan.
“Kadang kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya kita ini sedang mencari apa? Apakah kita sedang mencari ridha Allah, atau diam-diam sedang mencari pengakuan manusia?” ujar Mahmudi.
Menurutnya, kehidupan saat ini membuat popularitas semakin mudah diperoleh. Seseorang dapat dianggap hebat karena sering tampil di depan publik, memiliki banyak pengikut, ceramahnya ditonton ribuan orang, atau namanya dikenal di berbagai tempat.
Namun, ukuran tersebut belum tentu sama dengan ukuran Allah. Mahmudi mengingatkan jamaah pada sebuah kisah yang pernah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam ketika melihat dua orang dengan kondisi sosial yang berbeda.
Dalam hadis riwayat al-Bukhari, Rasulullah bertanya kepada seorang sahabat mengenai seorang laki-laki yang lewat di hadapan beliau. Laki-laki itu dikenal sebagai sosok terpandang. Jika melamar, kemungkinan diterima, dan jika meminta pertolongan, orang akan segera membantunya.
Tidak lama kemudian, lewat seorang laki-laki lain yang miskin dan hampir tidak memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Ketika ditanya tentang orang tersebut, sahabat menjawab bahwa jika ia melamar mungkin tidak diterima, meminta pertolongan mungkin tidak ditolong, dan perkataannya mungkin tidak didengar.
Namun, Rasulullah justru menyatakan bahwa orang kedua lebih baik daripada sepenuh bumi yang dipenuhi orang pertama. “Orang pertama punya nama, kedudukan dan pengaruh. Kalau berbicara didengar. Tetapi di hadapan Allah, semua itu belum tentu berarti apa-apa,” kata Mahmudi.
Sebaliknya, orang yang tidak diperhitungkan manusia bisa saja memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. Karena itu, menurut dia, ukuran kemuliaan tidak semata-mata dapat dilihat dari posisi seseorang di tengah masyarakat.
“Tidak perlu terlalu cepat menyimpulkan bahwa kekasih Allah adalah orang yang selalu berada di atas mimbar, sering berceramah, memiliki jamaah yang banyak, terkenal, atau wajahnya sering muncul di berbagai tempat. Belum tentu,” tuturnya.
Ia kemudian mengajak jamaah melihat kembali makna keikhlasan. Ada orang yang setiap hari berbicara di hadapan banyak manusia, tetapi masih mencari pujian. Sebaliknya, ada orang yang tidak pernah naik mimbar, tetapi setiap malam menangis dalam doanya.
Demikian pula dengan banyaknya jamaah dan pengikut. Menurut Mahmudi, jumlah tersebut tidak otomatis menunjukkan kedekatan seseorang dengan Allah. Bisa jadi ada orang yang tidak memiliki banyak pengikut, tetapi kehidupannya dipenuhi amal yang dilakukan secara diam-diam.
Pesan itu ia kaitkan dengan sosok Uwais al-Qarni. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah menyebut Uwais sebagai salah satu tabi'in terbaik dan menganjurkan agar para sahabat meminta kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah.
Uwais bukan sosok yang dikenal luas di tengah manusia. Ia hidup sederhana dan tidak mengejar popularitas. Namun, namanya justru disebut Rasulullah sebagai sosok yang memiliki kedudukan istimewa.
“Uwais tidak terkenal seperti para tokoh yang memiliki panggung besar. Tetapi Rasulullah justru menyebut namanya. Tidak masyhur di bumi, tetapi masyhur di langit,” ujar Mahmudi.
Karena itu, ia mengingatkan agar keinginan untuk dikenal dan dipuji tidak justru menjadi tujuan dalam beramal. Sebab, menurutnya, terkadang yang menjauhkan seseorang dari Allah bukan sedikitnya amal, melainkan keinginan agar amal tersebut diketahui banyak orang.
“Jangan terlalu sibuk ingin dikenal. Jangan terlalu sedih ketika tidak dipuji. Jangan merasa rendah hanya karena tidak punya panggung,” ucapnya berpesan.
Pada akhirnya, Mahmudi mengajak jamaah mengganti pertanyaan tentang seberapa banyak manusia mengenal dirinya dengan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Allah mengenalnya sebagai hamba yang ikhlas.
“Tidak harus terkenal untuk menjadi mulia. Tidak harus memiliki banyak jamaah untuk dicintai Allah. Tidak harus sering berada di atas mimbar untuk dekat dengan-Nya,” katanya.
Menurutnya, ketika jabatan berakhir, popularitas meredup dan pengikut meninggalkan seseorang, yang tersisa adalah amal dan bagaimana Allah menilai hati seorang hamba.
Ia pun menutup kajiannya dengan doa agar setiap orang tidak hanya mengejar pengakuan di dunia, tetapi mendapatkan ridha Allah. “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas dan orang-orang saleh yang Engkau cintai. Jangan jadikan bagian kami dari dunia ini sekadar popularitas, tetapi jadikan bagian terbesar kami adalah ridha-Mu,” demikian doa yang disampaikan Mahmudi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....