Ketoprak Ngesti Budoyo Angkat Geger Mataraman
- 15 Jun 2026 12:36 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya bekerja sama dengan Ketoprak Ngesti Budoyo menggelar pertunjukan ketoprak bertajuk Ki Ageng Mangir Wonoboyo: Geger Mataraman di Gedung Balai Budaya Alun-Alun Surabaya, Sabtu 13 Juni 2026 malam. Pagelaran yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan dapat disaksikan secara gratis.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, pertunjukan seni tradisional dinilai tetap memiliki peran penting sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Melalui kisah-kisah yang sarat nilai kehidupan, seni budaya menjadi media pembelajaran yang relevan untuk menanamkan kearifan lokal.
Namun demikian, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku seni tradisional saat ini adalah bagaimana menarik minat generasi muda agar tetap mau mengenal dan menyaksikan pertunjukan budaya daerah. Karena itu, penyelenggaraan pagelaran ketoprak menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
Ketoprak Ngesti Budoyo sendiri merupakan kelompok seni yang berdiri pada 22 Desember 2017 dan hingga kini aktif berkegiatan di Surabaya. Kelompok yang dipimpin Bayu Prakoso Aji dan bermarkas di Jalan Ambengan Batu Nomor 6/16 Surabaya tersebut konsisten menghadirkan berbagai pertunjukan ketoprak dengan tema-tema yang dekat dengan sejarah dan budaya Jawa.
Dalam pagelaran kali ini, sejumlah seniman turut ambil bagian sebagai pemeran utama, di antaranya Ki Sikko Sunjoyo sebagai Panembahan Senopati, Ki Faisal Dhony sebagai Patih Singoranu, Ki Alfaris S sebagai Raden Purboyo, Ki Daryono sebagai Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Ki Gunanto sebagai Juru Mertani, Ernawati sebagai Garwo Prameswari, Sari sebagai Retno Pembayun, serta Dewi Kartolo dan Indra Kusuma sebagai Putri Keraton.
Sutradara sekaligus pemeran utama, Ki Daryono, mengatakan kelompoknya telah beberapa kali tampil di Balai Budaya Alun-Alun Surabaya. “Ketoprak Ngesti Budoyo melakukan pertunjukan di Balai Budaya Alun-Alun Surabaya kira-kira sudah 20 kali. Tujuan pagelaran ini untuk mengembangkan seni tradisional dan budaya tradisional agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ki Daryono, lakon Ki Ageng Mangir Wonoboyo: Geger Mataraman mengangkat kisah penolakan Ki Ageng Mangir Wonoboyo terhadap kekuasaan Kerajaan Mataram. Penolakan itu dilatarbelakangi keyakinan bahwa wilayah Wonoboyo telah berdiri sebelum Mataram berkembang menjadi kerajaan besar.
“Ki Ageng Mangir Wonoboyo merasa bahwa sebelum adanya Mataram, Wonoboyo sudah berdiri. Karena itu ia menolak memberikan asok bumi bekti atau upeti kepada Kerajaan Mataram,” kata Ki Daryono menjelaskan alur utama cerita yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut.
Konflik kemudian berkembang menjadi peperangan antara Mataram dan Wonoboyo. Dalam kisah itu juga ditampilkan strategi politik yang dijalankan pihak Mataram melalui tokoh Retno Pembayun. Putri Panembahan Senopati tersebut dikisahkan menyamar sebagai penari tayub untuk memikat hati Ki Ageng Mangir Wonoboyo hingga akhirnya hubungan keduanya melahirkan keturunan.
Ki Daryono menilai lakon tersebut dipilih karena mengandung banyak pelajaran yang dapat dipetik oleh generasi muda. “Cerita ini sangat banyak memiliki tuntunan bagi kaum muda. Ada nilai keberanian, strategi, perjuangan, cinta, hingga bagaimana seseorang menyikapi kekuasaan dan konflik,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa setiap pertunjukan ketoprak selalu memiliki keunikan tersendiri. “Namanya pagelaran, tiap-tiap cerita pasti berbeda. Kita memilih cerita yang populer, cerita yang baik, dan cerita yang bisa membuat penonton terkesan. Karena itu kami memilih lakon ini,” ujarnya.
Sementara itu, pemeran Raden Purboyo, Ki Alfaris, berharap perhatian terhadap seni budaya tradisional terus meningkat. “Semoga pagelaran ketoprak maupun seni budaya di Surabaya semakin berkembang. Kepada Disbudporapar, semoga pagelarannya bisa ditambah lagi sehingga masyarakat semakin sering menikmati pertunjukan budaya,” katanya.
Harapan serupa disampaikan Ki Daryono. Ia menginginkan frekuensi pertunjukan seni tradisional di Surabaya dapat diperbanyak sebagai bagian dari upaya regenerasi pelaku dan penikmat budaya. “Kalau bisa dalam satu bulan tidak hanya dua kali, tetapi empat atau lima kali. Karena kami ingin mengajak generasi muda lebih menyenangi budaya kita sendiri dan tidak kehilangan akar seni budaya daerah,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....