Lawan Arus Modernisasi, Konsisten Memasyarakatkan Wastra Nusantara

  • 13 Apr 2026 14:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Di tengah gempuran tren fast fashion dan gaya berpakaian ala Barat, geliat pelestarian budaya lokal justru semakin menguat di Kota Pahlawan. Sejumlah penggiat budaya dan masyarakat umum kini mulai kembali bangga mengenakan Wastra Nusantara dalam aktivitas sehari-hari, bukan sekadar untuk acara formal semata.

Pemandangan ini terlihat jelas pada penampilan budayawan Cak Ries yang juga selaku narasumber program Budaya Pro 4 RRI Surabaya, di mana Cak Ries beserta istri dan rekan komunitasnya secara konsisten tampil serasi mengenakan padu padan kain tradisional. Langkah ini dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap pudarnya identitas bangsa di era digital.

Cak Ries beserta istri dan rekannya mengenakan kain wastra khas Jawa Timur. Kain wastra tidak hanya digemari oleh generasi tua, namun juga mulai merambah ke kalangan muda yang memadukannya dengan gaya yang lebih santai.

"Mengenakan wastra adalah cara paling sederhana untuk mencintai Indonesia. Kita tidak hanya memakai kain, tapi kita memakai sejarah dan filosofi di setiap motifnya," kata Cak Ries.

Transformasi gaya berpakaian tradisional kini telah bergeser. Jika dulu kain lilit dianggap ribet, kini banyak inovasi gaya yang membuatnya tetap nyaman digunakan untuk bekerja maupun bersosialisasi di tempat umum, seperti di lingkungan perkantoran atau instansi layanan publik.

Beberapa poin penting dalam gerakan melestarikan wastra di era modern antara lain:

Adaptasi Gaya: Memadukan atasan modern dengan bawahan kain batik.

Edukasi Motif: Meningkatkan kesadaran akan makna di balik motif parang, kawung, hingga pesisiran.

Dukungan Lokal: Memprioritaskan penggunaan batik tulis atau cap asli dibandingkan tekstil bermotif batik buatan pabrik.

"Budaya adalah identitas. Tanpa upaya nyata untuk mengenakannya di ruang publik, warisan leluhur ini perlahan hanya akan menjadi benda pajangan di museum." kata Ning Sami, istri Cak Ries.

Dengan semakin banyaknya tokoh masyarakat dan komunitas yang mempopulerkan kembali pakaian adat seperti penggunaan Udeng (ikat kepala) dan baju Pesa'an atau beskap santai—diharapkan Surabaya dapat menjadi barometer pelestarian budaya di Jawa Timur.

Gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada momentum seremonial saja, melainkan menjadi gaya hidup yang membuktikan bahwa tradisionalitas dan modernitas bisa berjalan beriringan dengan sangat harmonis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....