Satya Jawa Libels Ajak Gen Z "Bangga Uri-uri Budaya"

  • 04 Apr 2026 20:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah gempuran tren modernitas menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Namun, bagi komunitas Satya Jawa Libels, budaya Jawa bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus dikemas dengan gaya kekinian agar tetap relevan.

Komunitas Satya Jawa Libels ini adalah klub sastra dan budaya Jawa di SMAN 15 Surabaya. Dibentuk pada Juni 2024. Tujuannya adalah untuk mengenalkan sastra dan budaya Jawa serta menghidupkan kembali tradisi Jawa khususnya dilingkungan SMAN 15 Surabaya dan seluruh warga Surabaya.

Hal ini menjadi topik hangat dalam program Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Surabaya, Sabtu (4/4). Hadir sebagai narasumber, tiga perwakilan dari Satya Jawa Libels: Hafidz, Andini, dan Zhafran, yang berbagi perspektif mengenai posisi budaya Jawa di mata Gen Z.

Menurut Hafidz, pandangan bahwa budaya Jawa itu "kuno" atau "ribet" perlahan mulai terkikis di kalangan siswa SMAN 15 Surabaya (Libels). Melalui Satya Jawa, mereka mencoba membuktikan bahwa mempelajari tradisi-tradisi-tradisi Jawa khususnya sastra bisa menjadi aktivitas yang prestisius.

"Kami ingin menunjukkan kalau mempelajari tradisi-tradisi-tradisi Jawa itu nggak cuma buat orang tua. Ada rasa bangga tersendiri saat kita bisa mengenal tradisi yang punya nilai filosofis tinggi," ujar Zhafran.

Andini menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bahasa. Penggunaan Unggah-Ungguh (tata krama) dan bahasa Jawa Kromo seringkali dianggap sulit oleh rekan sebaya mereka.

Pendekatan Fleksibel: Satya Jawa menggunakan pendekatan yang lebih santai agar anggota baru tidak merasa tertekan.

Media Sosial: Memanfaatkan platform digital untuk mendokumentasikan kegiatan agar terlihat menarik dan estetik di mata netizen muda.

Menariknya, Zhafran melihat bahwa aktivitas berbudaya bisa menjadi sarana self-healing bagi anak muda yang sering terpapar stres akademik.

"Saya suka dengan kegiatan diskusi sejarah di komunitas ini. Karena dari dulu saya suka dengan sejarah." ungkap Hafidz.

Di akhir sesi obrolan, ketiga narasumber mengajak seluruh pendengar, khususnya anak muda di Surabaya, untuk tidak malu menunjukkan identitas Jawanya. Mereka percaya bahwa Gen Z punya cara unik untuk melestarikan budaya tanpa harus kehilangan jati diri sebagai generasi modern.

Program Obrolan Komunitas ini merupakan komitmen Pro 4 RRI Surabaya sebagai kanal budaya dan sarana bagi komunitas lokal untuk menginspirasi masyarakat luas dalam menjaga kearifan lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....