Renewable Energy Certificate-REC Untuk Masa Depan Hijau
- 25 Okt 2024 13:07 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: PT PLN (Persero) siap memenuhi kebutuhan listrik hijau untuk sektor industri di Indonesia. Upaya ini terwujud dalam layanan Green Energy as a Service (GEAS) sebagai komitmen penyediaan listrik bersih dari pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) bagi industri. Salah satu upayanya melalui Renewable Energy Certificate (REC).
Di Indonesia, REC diperkenalkan oleh PLN pada tahun 2020 sebagai salah satu layanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan listrik hijau.
Masyarakat tentu asing dengan istilah ini, Apa itu Renewable Energy Certificate (REC)?
Renewable Energy Certificate (REC) adalah suatu sertifikat yang diterbitkan sebagai bukti bahwa satu megawatt-jam (MWh) energi listrik telah dihasilkan dari sumber energi terbarukan seperti energi surya, angin, biomassa, hidro, atau geotermal. Di Indonesia, PLN (Perusahaan Listrik Negara) berperan penting dalam pengelolaan dan penerbitan REC, yang mendukung transisi menuju penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menekankan PLN terus berkomitmen merespons perubahan industri dunia yang mengarah ke nol emisi. Langkah ini selaras dengan upaya Pemerintah memenuhi target Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060.
”Sejalan dengan tingginya komitmen sektor industri untuk mendukung dekarbonisasi di Indonesia, PLN menyediakan listrik hijau lewat Renewable Energy Certificate (REC) sebagai produk GEAS yang diakui secara internasional. Setiap sertifikat REC membuktikan bahwa listrik per megawatt hour (MWh) yang digunakan berasal dari pembangkit EBT atau non-fosil,” jelas Darmawan.
Adapun tujuan dan manfaat REC adalah mendorong Pengembangan Energi Terbarukan. Dengan adanya REC, PLN memberikan insentif bagi pengembang energi terbarukan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang ramah lingkungan. Ini penting untuk mencapai target bauran energi terbarukan nasional.
REC juga menyediakan sistem yang transparan untuk melacak produksi energi terbarukan. Hal ini memudahkan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mengawasi kemajuan penggunaan energi terbarukan.
REC yang disediakan PLN membuktikan bahwa energi yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT yang diaudit oleh sistem tracking internasional, APX TIGRs yang berlokasi di California, USA. Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap REC dapat dipertanggungjawabkan, berkualitas tinggi, dan memenuhi standar internasional.
Manfaat lainnya adalah untuk mendukung Perusahaan yang ingin menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan.
"Dengan membeli REC, perusahaan dapat mengklaim bahwa mereka telah menggunakan energi terbarukan dalam operasional mereka. Perusahaan yang menggunakan REC dapat memperkuat citra merek mereka sebagai organisasi yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan." jelas Darmawan.
Selain itu, adanya REC, masyarakat dan industri semakin sadar akan pentingnya penggunaan energi bersih, yang pada gilirannya dapat mendorong lebih banyak investasi di sektor energi terbarukan.

Lantas seperti apa proses Penerbitan REC? Ketika pengembang energi terbarukan menghasilkan listrik, PLN mencatat jumlah MWh yang dihasilkan. Untuk setiap MWh yang dihasilkan, PLN menerbitkan satu REC yang mencakup informasi penting seperti jenis sumber energi, lokasi pembangkit, tanggal produksi dan nama pemilik sertifikat.
Misalnya, jika fasilitas pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan listrik sebesar 5 MWh, maka fasilitas tersebut mempunyai lima kredit untuk disimpan atau dijual. Jika ada perusahaan membeli kredit tersebut, maka perusahaan tersebut membeli listrik dari sumber pembangkit listrik tenaga angin. Kemudian perusahaan tersebut dapat mengklaim bahwa 5 MWh penggunaan listrik yang digunakan berasal dari sumber energi bersih atau terbarukan.
Dengan cara ini, konsumen listrik hijau dapat mencapai target netral karbon atau 100% EBT tanpa harus membangun infrastruktur sendiri atau mengubah sumber listrik mereka.
Berapa harga REC yang dijual PLN?
Tidak ada formula baku bagaimana penghitungan harga REC. Pihak penyedia REC menjualnya pada harga yang bervariasi. Indian Energy Exchange menjual REC pada harga 1000 Rupee per Unit (setara Rp. 180.000). Harga REC di Australia antara 30-40 Dollar Australia. Sekitar Rp. 300.000 - 400.000.
Harga REC yang ditawarkan PLN relatif murah. 1 unit REC yang setara dengan 1000 kWh dijual oleh PLN pada harga Rp 35.000. Nampaknya ini sebagai langkah awal untuk menarik minat para perusahaan dan masyarakat pelanggannya.
Guna memastikan listrik hijau itu terpenuhi, lanjut Darmawan, PLN terus meningkatkan kapasitas pembangkit Energi baru terbarukan EBT di tanah air. Hingga tahun 2023, pengembangan pembangkit EBT PLN telah mencapai 8.786 megawatt (MW). Dengan rincian pembangkit berbasis hidro (PLTA/PLTMH) sebesar 5.777 MW, pembangkit berbasis panas bumi (PLTP) sebesar 2.519 MW, dan sisanya berasal dari surya (PLTS), angin (PLTB) dan biomassa.
Tidak berhenti di situ, PLN bersama Pemerintah tengah melakukan finalisasi peningkatan bauran EBT dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penambahan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru. Targetnya, penambahan kapasitas pembangkit di Indonesia ke depan akan ditopang oleh EBT.
”Jadi, mulai hari ini hingga tahun 2040, penambahan kapasitas sebesar 21 Gigawatt (GW) berasal dari pembangkit listrik tenaga gas, 28 GW dari tenaga surya dan angin, 31 GW dari tenaga air dan panas bumi, 2,4 GW dari energi baru. Melalui layanan ini, Kami siap mendukung arah investasi yang berkelanjutan yang tengah difokuskan Pemerintah. Langkah ini juga selaras dengan upaya kita untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060,” tutur Darmawan.
Darmawan memaparkan, pasokan listrik dari layanan GEAS bersumber dari pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT). Sampai saat ini, layanan GEAS telah dinikmati oleh berbagai perusahaan nasional maupun global di Tanah Air.
“Sejalan dengan tingginya komitmen sektor industri untuk mendukung dekarbonisasi di Indonesia, PLN menyediakan listrik hijau lewat REC yang diakui secara internasional. Setiap sertifikat REC membuktikan bahwa listrik per megawatt hour (MWh) yang digunakan berasal dari pembangkit EBT atau nonfosil,” kata Darmawan.
Hingga September 2024, layanan listrik hijau REC PLN telah dinikmati ribuan pelanggan dengan total 9.776 transaksi yang penjualannya mencapai 4,01 juta Megawatt hours (MWh). Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding periode yang sama di tahun 2023 yang mencapai 2.554 transaksi dengan penjualan sebesar 2,33 juta MWh.
Realisasi penjualan REC ini tentu cukup menggembirakan, karena menunjukkan kesadaran pelanggan PLN untuk menggunakan EBT sudah terbangun. Di sisi lain, dengan realisasi jumlah unit REC yang terjual tersebut telah menunjukkan kesiapan PLN dalam menyediakan energi yang ramah lingkungan. Pertumbuhan ini mencerminkan komitmen kuat PLN dalam mendukung transisi energi hijau melalui peningkatan penggunaan sertifikat energi terbarukan di Indonesia.
Darmawan menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan kapasitas energi bersih untuk memenuhi permintaan listrik hijau untuk industri yang semakin tinggi.
”Dalam hal ini kami juga telah berhasil menambah dua pembangkit sebagai sumber REC. Sehingga saat ini kami memiliki 8 pembangkit yang dapat menerbitkan REC dengan kapasitas produksi mencapai 4,7 juta unit REC atau 4,7 TWh per tahun dan jumlah tersebut akan terus bertambah,” jelas Darmawan.
Adapun dua pembangkit sumber REC yang berhasil ditambah PLN tahun ini ialah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Nusa Tenggara Timur dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Orya Genyem di Papua.
Dua pembangkit berbasis EBT di atas telah bergabung dengan 6 pembangkit lain yang selama ini telah menyuplai listrik hijau REC PLN yaitu PLTP Ulubelu, PLTA Cirata, PLTP Kamojang, PLTM Lambur, PLTA Bakaru, dan PLTP Lahendong.

Di Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Trenggalek menjadi pemerintah daerah pertama di Jawa Timur yang menggunakan energi bersih melalui Renewable Energy Certificate REC. Hal ini setelah Pemkab Trenggalek menandatangani nota kesepahaman dengan PT PLN (Persero) terkait layanan Green Energy as a Service (GEAS) untuk menggunakan REC sebanyak 200 unit atau setara dengan 200 megawatt hour (MWh).
Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ponorogo Suzana Zein pada rangkaian Grand Final Putri Otonomi Indonesia (POI) 2024, di Tebing Kapuh, Trenggalek, Jum’at (07/06/2024).
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menilai kerja sama Pemkab Trenggalek dengan PLN penting dalam upaya mengurangi emisi karbon dan mendukung penggunaan energi terbarukan (EBT). Kerja sama ini kata dia, merupakan wujud komitmen Pemkab Trenggalek mendukung langkah transisi energi Pemerintah guna mencapai Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060 atau lebih cepat. REC tersebut digunakan untuk listrik di kawasan kantor Bupati Trenggalek.
”Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kerja sama ini. Dengan adanya sertifikat ini, kami berharap dapat mendorong penggunaan energi baru terbarukan di Trenggalek pada khususnya dan pada kesempatan ini saya mengajak kepala daerah yang hadir untuk ikut juga berpartisipasi,” ujar Mochamad.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Agus Kuswardoyo merinci di Provinsi Jawa Timur sudah terdapat 48 pelanggan REC. Dirinya berharap inisiasi penggunaan REC oleh Pemkab Trenggalek mampu menjadi motivasi bagi pemerintah daerah lainnya dalam menggunakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan.
“Di Jawa Timur saat ini terdapat 48 pelanggan REC yang didominasi oleh pelanggan industri dengan total REC yang telah dikeluarkan hingga 1.060.896 unit setara dengan 1.060 GWh. Kami berharap ke depan makin banyak pemerintah maupun masyarakat yang menggunakan energi bersih melalui REC PLN,” tutur Agus.
Menurut Agus, kerja sama antara PLN dengan Pemkab Trenggalek menjadi salah satu contoh kolaborasi dalam agenda transisi energi yang dijalankan Pemerintah RI.
“Sertifikat REC ini merupakan bukti nyata bahwa penggunaan energi terbarukan dapat menjadi solusi untuk masa depan yang lebih hijau,” pungkas Agus.

Selain Pemanfaatan REC oleh pemerintah daerah, kalangan industri di Jawa Timur juga turut mendukung langkah transisi energi Pemerintah guna mencapai Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060.
Salah satunya adalah PT Unicharm Indonesia Tbk. yang melakukan pembelian REC untuk kedua site yang berada di Kawasan Industri Ngoro Kabupaten Mojokerto. PT Unicharm Indonesia Tbk. telah melakukan pembelian REC secara bundling sebesar 10% dari pemakaian Listrik bulanan, setara 4.119.000 kWh untuk periode 12 bulan. Sementara, PT Unicharm Nonwoven Indonesia juga melakukan pembelian secara bundling sebesar 22% dari pemakaian listrik bulanan, setara dengan 1.185.000 kWh untuk periode 12 bulan.
Factory Head PT. Unicharm Indonesia Tbk., Hiroshi Oya menyampaikan bahwa Unicharm Group memiliki tujuan yang sudah menjadi komitmen yaitu realisasi Sustainable Development Goals (SDGs). Untuk mewujudkan renewable energy 100%, telah diupayakan untuk melakukan yang terbaik sebagai perusahaan melalui pemasangan PLTS yang menyokong sekitar 14% energi bersih, dan menggunakan REC pada seluruh listrik yang digunakan dari PLN hingga tahun 2029.
"Untuk langkah awal, di bulan Juli ini mulai menggunakan REC sebesar 10% dari penggunaan bulanan PLN, atau sekitar 300 unit perbulan. Penggunaan REC akan ditingkatkan sesuai roadmap yang telah kami setting yaitu 100% di tahun 2029. Dengan adanya kolaborasi bersama PLN, kami dapat berkontribusi pada pencapaian Net Zero Emission melalui produksi yang menggunakan energi bersih dan ramah lingkungan. Mulai hari ini hingga seterusnya, PLN akan terus menjadi Business Partner utama dalam keberlanjutan pengembangan produk layanan listrik bertema clean energy,” ungkapnya.
Senada, Factory Head PT Unicharm Nonwoen Indonesia, Ryosuke Inokawa mengungkapkan bahwa dalam trend perwujudan SDGs, kebutuhan terkait berbagai macam aktivitas Environmental, Social and Governance (ESG) semakin meningkat. Demi menjaga keberlanjutan energi dan sebagai upaya pengurangan polusi udara dan berkontribusi kelestarian lingkungan. Unicharm Group telah menetapkan target sebagai tantangan bagi seluruh grup Unicharm, yaitu mencapai 100% energi bersih pada tahun 2030.
“Mulai hari ini kami secara resmi memulai menggunakan REC sebesar 1500 Unit pertahun atau 22% dari penggunaan listrik PLN setiap bulannya. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama PLN mewujudkan terkontraknya REC ini. Kami berharap dapat terus menyediakan produk yang diproduksi dengan energi yang ramah lingkungan,” kata Ryosuke.
Renewable Energy Certificate (REC) PLN merupakan alat penting dalam mendorong transisi ke energi terbarukan di Indonesia. Dengan memberikan insentif bagi pengembang dan perusahaan, serta mendukung kebijakan keberlanjutan, REC dapat memainkan peran sentral dalam mencapai tujuan energi bersih dan mitigasi perubahan iklim.
Keberhasilan implementasi REC bergantung pada kerja sama antara pemerintah, pengembang, industri, dan masyarakat untuk mengatasi tantangan yang ada dan memaksimalkan potensi energi terbarukan di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....