Mengenal Anglo, Tungku Tradisional di Balik Mie Jawa

  • 06 Okt 2026 20:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Mie anglo bukan sekadar nama sebuah hidangan. Di baliknya terdapat anglo, tungku tradisional berbahan tanah liat yang digunakan sebagai sumber panas untuk memasak. Penggunaan tungku ini menjadi bagian dari cara pengolahan mie Jawa secara tradisional.

Materi pembelajaran tata boga yang tersimpan dalam repositori resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut mie anglo sebagai mie Jawa yang dapat disajikan dalam bentuk kuah maupun goreng. Penggunaan anglo menjadi salah satu keunikan dalam proses pengolahannya.

“Mie anglo merupakan mie jawa yang dapat disajikan dengan kuah maupun digoreng,” demikian keterangan dalam materi pembelajaran tata boga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lantas, seperti apa sebenarnya anglo yang digunakan untuk memasak tersebut?

Kajian Peralatan Dapur Tradisional sebagai Warisan Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia menjelaskan, anglo merupakan tungku yang dibuat dari tanah liat dan menggunakan arang sebagai bahan bakar.

“Anglo terbuat dari tanah liat, bahan bakarnya adalah arang,” demikian keterangan dalam kajian Peralatan Dapur Tradisional sebagai Warisan Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia.

Anglo memiliki sejumlah bagian yang mendukung proses pembakaran. Di dalamnya terdapat tempat untuk bara dan sarangan, sementara pada bagian bawah terdapat mulut anglo sebagai jalur masuk udara. Aliran udara tersebut membantu bara tetap menyala ketika digunakan untuk memasak.

Cara kerjanya cukup sederhana. Arang ditempatkan pada bagian tungku, kemudian udara dikipaskan melalui lubang pada tubuh anglo untuk menjaga bara tetap menyala. Panas yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk memasak menggunakan wajan atau peralatan masak di bagian atas tungku.

Penggunaan anglo ternyata tidak hanya ditemukan pada mie Jawa. Peralatan tradisional tersebut juga tercatat dalam proses pembuatan sejumlah makanan lainnya, salah satunya Serabi Notosuman.

Data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan mencatat, pada proses awal pembuatan Serabi Notosuman, adonan dimasak menggunakan wajan kecil dari tanah liat yang diletakkan di atas tungku kecil atau anglo dengan bahan bakar arang.

“Adonan yang sudah jadi lalu dimasukan dalam wajan kecil dari tanah liat di atas tungku kecil atau anglo dengan bahan bakar arang,” demikian keterangan dalam data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan.

Penggunaan anglo menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan sederhana untuk memenuhi kebutuhan memasak. Tanah liat dibentuk menjadi tungku, sementara arang dimanfaatkan sebagai sumber panas dengan bantuan aliran udara.

Seiring perkembangan teknologi, penggunaan tungku tradisional semakin berkurang karena masyarakat beralih ke peralatan memasak yang lebih praktis. Meski demikian, anglo masih dapat ditemukan dalam sejumlah pengolahan kuliner tradisional.

Karena itu, istilah mie anglo tidak hanya menunjukkan nama makanan. Di baliknya terdapat sebuah tungku sederhana dari tanah liat yang menjadi bagian dari pengetahuan memasak dan perjalanan kuliner tradisional masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....