Tsania Aulia Fitriana, Siswa Disabilitas yang Terus Mengembangkan Potensi Diri

  • 03 Okt 2026 17:32 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi Tsania Aulia Fitriana untuk terus belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Siswi SMPN 6 Surabaya yang menyandang disabilitas borderline itu kini aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan bakat, mulai dari fotografi hingga dunia kecantikan.

Dalam dialog Surabaya Siang Ini, Sabtu, 3 Oktober 2026, Tsania menceritakan pengalamannya menjalani pendidikan di SMPN 6 Surabaya. Salah satu mata pelajaran yang paling disukainya adalah matematika.

“Saya suka matematika. Kalau belajar matematika saya senang,” ujar Tsania.

Di luar sekolah, Tsania juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya melalui Rumah Anak Prestasi (RAP) Surabaya. RAP merupakan pusat layanan dan pengembangan bakat inklusif gratis yang didirikan Pemerintah Kota Surabaya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas. Di tempat tersebut, Tsania mengikuti sejumlah kegiatan pengembangan keterampilan. Salah satunya adalah fotografi dengan pendampingan dan pembinaan dari Leo Gemati.

“Saya belajar fotografi di Rumah Anak Prestasi. Senang karena bisa belajar hal baru,” kata Tsania.

Sementara itu, Leo Gemati mengatakan, RAP Surabaya memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Menurutnya, keterbatasan tidak seharusnya menjadi satu-satunya hal yang dilihat dari seorang anak.

“Di Rumah Anak Prestasi, anak-anak kami berikan ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi mereka. Kami tidak ingin melihat keterbatasannya saja, tetapi juga melihat kemampuan dan minat yang dimiliki masing-masing anak,” ujarnya.

Bagi Tsania, kesempatan belajar di RAP menjadi pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di sekolah. Selain mendapatkan keterampilan baru, kegiatan tersebut juga memberinya kesempatan untuk berinteraksi dan mencoba berbagai aktivitas sesuai minatnya.

Namun, perjalanan Tsania dalam tumbuh dan berkembang tidak selalu mudah. Sang ibu, Dewi, mengatakan Tsania pernah mengalami kejang ketika masih berusia sekitar 15 bulan.

“Waktu usia sekitar 15 bulan, Tsania pernah sering mengalami kejang, sehingga mengharuskan dia mengonsumsi obat. Kalau biasanya obat berbentuk sirup, saat ini masih harus mengonsumsi obat pil. Tapi kami terus mendampingi dan memberikan kesempatan untuk belajar serta berkembang,” tutur Dewi.

Dewi mengaku tidak ingin kondisi yang dialami putrinya membatasi kesempatannya untuk belajar. Karena itu, ia berusaha memberikan ruang kepada Tsania untuk mencoba berbagai kegiatan.

“Yang penting anak diberi kesempatan untuk mencoba. Dari situ kami bisa melihat sebenarnya Tsania lebih suka dan berbakat di bidang apa,” katanya.

Selain fotografi, Dewi melihat putrinya memiliki ketertarikan cukup besar terhadap dunia kecantikan. Tsania pun beberapa kali mengikuti kegiatan beauty class untuk mengembangkan minat tersebut.

“Kalau melihat minatnya, Tsania lebih ke kecantikan. Jadi saya sering ikutkan beauty class supaya dia bisa belajar dan mengembangkan minatnya,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, kegiatan beauty class tidak hanya memberikan keterampilan baru bagi Tsania, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri.

“Harapannya dia semakin percaya diri, punya keterampilan, dan nantinya bisa memilih bidang yang memang dia sukai,” imbuhnya.

Tsania sendiri mengaku senang mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kecantikan. Ia mulai memiliki gambaran mengenai bidang yang ingin ditekuni setelah menyelesaikan pendidikan SMP.

“Saya suka belajar tentang kecantikan dan make up,” ujar Tsania.

Melihat minat tersebut, Dewi telah menyiapkan rencana pendidikan Tsania setelah lulus SMP. Ia berencana mengarahkan putrinya untuk melanjutkan pendidikan ke SMK dengan mengambil bidang yang berkaitan dengan kecantikan atau tata rias.

“Tahun depan rencananya kami ingin memasukkan Tsania ke SMK jurusan kecantikan atau make up. Kami melihat itu yang paling sesuai dengan minatnya,” kata Dewi.

Leo Gemati menambahkan, setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga perlu diberikan kesempatan untuk mencoba berbagai kegiatan. Dari proses tersebut, minat dan kemampuan anak dapat terlihat dan dikembangkan secara bertahap.

“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mencoba berbagai kegiatan. Dari proses tersebut, kita bisa melihat minat dan kemampuan yang paling menonjol,” ujar Leo.

Perjalanan Tsania menjadi gambaran bahwa pendidikan inklusif tidak hanya tentang memberikan kesempatan kepada anak penyandang disabilitas untuk bersekolah. Lebih dari itu, lingkungan yang mendukung juga diperlukan agar mereka dapat menemukan minat, mengembangkan keterampilan, dan membangun kepercayaan diri.

Bagi Tsania, perjalanan tersebut masih panjang. Matematika menjadi pelajaran yang ia sukai di sekolah, fotografi menjadi keterampilan baru yang dipelajari di RAP, sementara dunia kecantikan mulai menjadi bidang yang ingin ia tekuni.

“Saya ingin terus belajar dan mencoba hal-hal baru,” kata Tsania.

Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan yang inklusif menjadi bagian penting dalam perjalanan Tsania mempersiapkan masa depannya. Dengan kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan bakat, Tsania perlahan menemukan bidang yang ingin ditekuni sesuai dengan potensi dan minatnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....