Siti Rahmani Rauf, Sosok di Balik Legenda “Ini Budi”

  • 18 Sep 2026 15:08 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Siti Rahmani Rauf merupakan salah satu tokoh yang memiliki jasa penting dalam sejarah pendidikan dasar di Indonesia. Namanya dikenal luas melalui materi pembelajaran membaca yang menggunakan tokoh “Budi” dan keluarganya. Bagi generasi yang bersekolah pada era 1980-an hingga 1990-an, kalimat seperti “Ini Budi”, “Ini Ibu Budi”, dan “Ini Bapak Budi” menjadi bagian yang sangat melekat dari pengalaman belajar membaca di sekolah dasar.

Siti Rahmani Rauf lahir di Padang, Sumatera Barat pada 5 Juni 1919. Ia mulai berkecimpung dalam dunia pendidikan sejak usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan keguruan, ia mengabdikan diri sebagai guru di wilayah Sumatera, termasuk mengajar sejak sekitar 1938 hingga 1953. Pada 1954, Siti Rahmani kemudian pindah ke Jakarta bersama suami dan anak-anaknya.

Pengabdiannya sebagai pendidik terus berlangsung setelah pindah ke Jakarta. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap bagaimana anak-anak dapat belajar membaca dengan cara yang mudah dipahami. Siti Rahmani kemudian menjadi kepala sekolah SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat, sebelum memasuki masa pensiun pada 1976.

Setelah pensiun, kiprah Siti Rahmani dalam pendidikan ternyata belum berakhir. Pada sekitar awal hingga pertengahan 1980-an, ia mendapat pekerjaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membantu membuat alat peraga pembelajaran. Saat itu, diperlukan media berupa gambar dan materi sederhana yang dapat membantu siswa sekolah dasar memahami pelajaran membaca.

Dalam proses tersebut kemudian muncul tokoh Budi dan keluarganya. Siti Rahmani membuat materi pembelajaran dengan memadukan tulisan sederhana dan gambar sehingga lebih menarik bagi anak-anak. Tokoh Budi digunakan untuk membantu siswa mengenali kata, kalimat, serta hubungan antara gambar dan tulisan. Alat peraga tersebut kemudian menjadi sangat dikenal dan digunakan secara luas di berbagai daerah di Indonesia.

Materi “Ini Budi” juga berkaitan dengan pendekatan Struktur Analitik Sintetik (SAS) dalam pembelajaran membaca permulaan. Pendekatan tersebut membantu siswa belajar dari struktur kalimat kemudian mengenali bagian-bagian kata dan menyusunnya kembali. Karena menggunakan kalimat pendek serta gambar yang dekat dengan kehidupan anak, pembelajaran menjadi lebih mudah diterima oleh siswa sekolah dasar.

Popularitas “Ini Budi” kemudian menyebar luas. Buku dan alat peraganya digunakan oleh banyak sekolah, khususnya pada era 1980-an hingga 1990-an. Kalimat sederhana tentang Budi, ibu, bapak, serta anggota keluarganya menjadi bagian dari kenangan pendidikan bagi jutaan anak Indonesia pada masa tersebut.

Salah satu hal yang menarik dari kisah Siti Rahmani adalah pengabdiannya terhadap dunia pendidikan. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa ketika diminta mengerjakan materi tersebut, ia tidak menjadikan imbalan materi sebagai tujuan utama. Kecintaannya terhadap pendidikan dan pengalamannya sebagai guru menjadi dorongan untuk membuat alat pembelajaran yang dapat membantu anak-anak belajar membaca.

Selain sebagai pendidik, Siti Rahmani juga dikenal memiliki kegemaran membaca dan menggambar. Kemampuan tersebut turut mendukung proses pembuatan alat peraga pembelajaran. Perpaduan antara pengalaman mengajar, perhatian terhadap kebutuhan siswa, serta kemampuan membuat gambar membuat materi pembelajaran yang dihasilkannya mudah diterima oleh anak-anak.

Siti Rahmani Rauf tutup usia pada 10 Mei 2016 di Jakarta dalam usia 97 tahun. Meski telah meninggal, namanya tetap dikenang melalui kontribusinya terhadap pendidikan dasar Indonesia. “Ini Budi” bukan hanya menjadi materi pembelajaran membaca, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah pendidikan yang dikenang oleh banyak generasi.

Kisah Siti Rahmani Rauf menunjukkan bahwa kontribusi seorang guru dapat memberikan pengaruh yang jauh lebih luas daripada ruang kelas tempat ia mengajar. Melalui materi pembelajaran yang sederhana dan dekat dengan dunia anak, ia membantu memperkenalkan kemampuan membaca kepada banyak siswa Indonesia. Sosoknya menjadi contoh bahwa dedikasi terhadap pendidikan dapat meninggalkan warisan yang bertahan lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....