Pembelajaran Model PBL dan PjBL Dorong Generasi Mampu Memecahkan Masalah

  • 04 Sep 2026 16:55 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Peserta didik dihadapkan pada persoalan yang semakin kompleks di tengah perubahan teknologi dan tuntutan kehidupan yang terus berkembang. Sementara itu, kemampuan untuk sekadar menguasai materi pelajaran belum tentu cukup untuk membuat mereka mampu menghadapi dan menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk tidak hanya mencetak peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membangun generasi yang mampu mengidentifikasi masalah, berpikir kritis, mencari alternatif solusi, mengambil keputusan, dan menghasilkan inovasi.

Dalam dialog Beranda Asta Cita, Jum'at, 4 September 2026, Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Darlin, S.TP., M.Pd mengatakan pentingnya perubahan pendekatan pembelajaran agar peserta didik tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi terlibat aktif dalam proses menemukan, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan.

"Salah satu tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana mengubah proses belajar yang berorientasi pada penerimaan materi menjadi pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berpikir dan bertindak. Untuk itu, melalui metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL), peserta didik diarahkan untuk belajar melalui permasalahan yang relevan sehingga mereka terdorong untuk mengidentifikasi masalah, mencari informasi, menganalisis berbagai alternatif, dan merumuskan solusi," ujarnya.

Darlin menjelaskan kemampuan menghafal konsep memang tetap diperlukan. Namun, ketika peserta didik berhadapan dengan persoalan yang tidak memiliki satu jawaban pasti, mereka membutuhkan kemampuan lain untuk menentukan langkah penyelesaian.

"Kita ambil contoh persoalan lingkungan, perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, membutuhkan kemampuan untuk menganalisis situasi dan mengambil keputusan. Dalam kondisi tersebut, pembelajaran perlu memberikan ruang kepada peserta didik untuk berhadapan langsung dengan masalah," ujarnya.

Menurut Darlin, kemampuan memecahkan masalah perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik menghadapi persoalan secara langsung. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada kemampuan memahami teori, tetapi dilanjutkan dengan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk memecahkan persoalan dalam situasi nyata.

Dini Wardani saat berbincang bersama Darlin dan Emilia dalam program Beranda Asta Cita, Jum'at, 4 September 2026. (Foto: RRI/Afif).

Sementara itu, Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA, Emilia DT, S.Ag., MM mengatakan pembelajaran dengan metode Project Based Learning (PjBL) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui proses pengerjaan suatu proyek. Dalam proses tersebut, peserta didik tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga belajar merencanakan, bekerja sama, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan mengevaluasi hasil pekerjaan.

"Dalam metode pembelajaran Project Based Learning (PjBL) menempatkan masalah sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Peserta didik diberikan persoalan yang relevan untuk kemudian diidentifikasi, dianalisis, dan dicari alternatif penyelesaiannya, melalui sebuah project atau produk," ujarnya.

Melalui proses tersebut, Emilia menjelaskan peserta didik belajar mengajukan pertanyaan, mencari informasi, berdiskusi, menguji gagasan, dan menyusun solusi berdasarkan hasil pemikiran mereka. Pendekatan ini membuat peserta didik tidak hanya bertanya mengenai apa jawaban dari sebuah persoalan, tetapi juga mengapa persoalan tersebut terjadi dan bagaimana cara menyelesaikannya.

"Persoalan yang digunakan dalam pembelajaran pun tidak harus selalu merupakan masalah besar. Guru dapat mengambil persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti pengelolaan sampah di sekolah, penggunaan air dan listrik, lingkungan kelas, kebiasaan belajar, maupun persoalan sosial di sekitar mereka. Dengan cara tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa pembelajaran memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka," katanya.

Emilia menjelaskan dalam pembelajaran konvensional, guru sering ditempatkan sebagai sumber utama informasi. Sementara dalam PBL dan PjBL, guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan mendampingi proses belajar. Guru perlu menyiapkan masalah atau proyek yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan pertanyaan pemantik, memantau proses kerja kelompok, memberikan umpan balik, serta membantu peserta didik ketika mengalami kesulitan.

"Melalui pembelajaran yang berorientasi pada masalah dan proyek, sekolah diharapkan dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Sebab, tantangan masa depan tidak selalu hadir dalam bentuk soal dengan pilihan jawaban yang sudah tersedia. Peserta didik akan berhadapan dengan persoalan yang membutuhkan kemampuan untuk memahami situasi, menentukan pilihan, bekerja sama, mengambil risiko, dan bertanggung jawab terhadap keputusan," ujarnya.

Karena itu, membangun generasi cerdas bukan hanya tentang membuat peserta didik mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga memastikan mereka memiliki kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, menemukan persoalan, mencari solusi, menguji gagasan, dan menciptakan perubahan. Kemampuan itulah yang menjadi fondasi penting untuk membangun generasi pemecah masalah sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....