Laznas LMI Kerahkan Posko Bantuan Bencana Bantu Korban Gempa di NTT
- 24 Agt 2026 22:19 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Hingga sepekan lebih setelah kejadian, upaya penanganan dan pemulihan masih terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Lembaga Manajemen Infaq (LMI) melalui Laznas LMI mengerahkan tim kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Berdasarkan pembaruan data per 24 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA, gempa utama yang berpusat di wilayah Kabupaten Nagekeo, sekitar Mbay, tersebut masih diikuti gempa-gempa susulan.
BMKG mencatat sedikitnya 6.697 kali gempa susulan terjadi setelah gempa utama. Humanitarian Program Laznas LMI, Susanto, mengatakan tim di lapangan masih berupaya menjangkau masyarakat yang terdampak, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah yang mengalami kerusakan.
“Respons kemanusiaan masih terus kami lakukan dengan fokus pada kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Tim berupaya memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan, termasuk melalui layanan dapur umum, distribusi logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga evakuasi dan pencarian serta pertolongan,” ujar Susanto.
Dampak gempa dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Flores. Sedikitnya tujuh kabupaten tercatat masuk dalam wilayah terdampak, yakni Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Sikka, dan Manggarai Barat. Sebanyak 58.360 rumah dilaporkan rusak, sementara 161.874 jiwa terdampak.
Selain kerusakan rumah warga, gempa juga berdampak pada fasilitas publik. Tercatat 130 ruas jalan terdampak, 356 fasilitas kesehatan rusak, 389 tempat ibadah rusak, serta 502 sekolah terdampak. Sementara itu, jumlah korban tercatat 1.505 orang mengalami luka-luka dan 91 orang meninggal dunia. Data tersebut masih bersifat dinamis dan terus diperbarui berdasarkan hasil asesmen serta laporan dari lapangan.
Dalam respons darurat, LMI menjalankan sejumlah program untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak. Hingga pembaruan 24 Agustus 2026, LMI mencatat telah menjalankan 120 pos dapur umum, 130 pos dapur air, melakukan 1.934 distribusi logistik, serta memberikan 45 layanan kesehatan.
Selain itu, tim juga melakukan pencarian dan evakuasi, pendirian pos layanan, serta pendistribusian berbagai kebutuhan darurat. Kebutuhan yang masih menjadi perhatian di lapangan antara lain alas tidur, terpal, air minum, dapur umum, baby kit, family kit, selimut, hygiene kit, genset, dan sembako.
Susanto menuturkan kebutuhan warga terdampak tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga perlengkapan untuk menunjang kehidupan sehari-hari seperti air bersih, selimut, kebutuhan bayi hingga genset yang menunjang keberlangsungan hidup warga selama berada di lokasi pengungsian maupun wilayah yang terdampak kerusakan.
“Selain makanan dan air, masyarakat juga membutuhkan perlengkapan dasar seperti selimut, terpal, perlengkapan keluarga, kebutuhan bayi, hygiene kit, hingga dukungan energi berupa genset. Karena itu, respons kami diarahkan agar bantuan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi mampu menjawab kebutuhan warga selama masa tanggap darurat,” ucapnya.
Selain itu untuk memperluas jangkauan pelayanan, LMI menyiapkan sejumlah titik pos kemanusiaan. Pos utama berada di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur. Sementara itu, terdapat tiga pos aju yang disiapkan untuk memperkuat pelayanan di wilayah lain. Pos Aju 1 berada di Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Pos Aju 2 berada di Desa Nanga Kantor Barat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan Pos Aju 3 berada di Desa Wairtotang, Kecamatan Alok Timur, Maumere, Kabupaten Sikka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....