Akademisi Unair Soroti Perlunya Perbaikan Metode Penghimpunan Data Desil Bansos
- 24 Agt 2026 12:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Persoalan data penerima bantuan sosial dinilai tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan angka dan pengelompokan masyarakat berdasarkan desil. Di balik setiap data, terdapat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang terus mengalami perubahan.
Dalam dialog Aspirasi Surabaya Pagi Ini, Senin, 24 Agustus 2026, Wakil Direktur II Pascasarjana Universitas Airlangga, Karnaji, menilai ketepatan data menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keadilan penyaluran bantuan sosial. Data yang tidak menggambarkan kondisi masyarakat secara aktual berpotensi menimbulkan persoalan dalam menentukan siapa yang berhak menerima bantuan.
Karnaji menilai persoalan tersebut juga perlu dilihat dari sisi metode penghimpunan data desil. Menurutnya, semakin penting data tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan proses pengumpulannya mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara nyata.
"Penghimpunan data tidak cukup hanya dilakukan dengan pendekatan administratif. Kondisi sosial ekonomi rumah tangga di lapangan perlu menjadi perhatian sehingga data yang dihasilkan tidak terlalu jauh dari realitas masyarakat," ujarnya.
Dalam konteks ini, proses pendataan membutuhkan mekanisme yang mampu menangkap perubahan kondisi rumah tangga secara berkala. Data yang diperoleh juga perlu melalui proses verifikasi dan validasi sehingga informasi yang digunakan dalam menentukan kelompok kesejahteraan memiliki tingkat keandalan yang lebih baik.
Perbaikan metode juga penting untuk mengurangi dua kemungkinan kesalahan dalam penyaluran bantuan. Pertama, masyarakat yang sebenarnya berhak menerima bantuan tetapi tidak masuk dalam kelompok sasaran. Kedua, masyarakat yang tercatat sebagai penerima meskipun kondisi ekonominya sudah tidak sesuai dengan kriteria penerima.
"Kita mengenal metode himpun data, kualitatif dan kuantitatif. Ini harus dilakukan secara tepat dan benar. Data harus benar-benar menggambarkan realita yang ada. Jangan sampai metode menghimpun data ini salah, sehingga akan memengaruhi hasil dan kesimpulan akhirnya," katanya.
Menurut Karnaji, persoalan utama dalam data bansos pada akhirnya adalah bagaimana angka-angka tersebut dapat merepresentasikan kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Sebuah rumah tangga tidak hanya dapat dilihat dari satu indikator ekonomi. Kondisi pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga, tanggungan, serta berbagai karakteristik sosial ekonomi lainnya dapat berubah dari waktu ke waktu.
"Karena itu, metode penghimpunan data desil perlu terus dievaluasi dan diperbaiki. Pendataan juga harus mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan perubahan kondisi maupun mengoreksi informasi yang tidak sesuai," ujarnya.
Dengan data yang lebih akurat dan mutakhir, kebijakan perlindungan sosial diharapkan dapat berjalan lebih adil. Masyarakat yang memang membutuhkan bantuan memperoleh haknya, sementara bantuan pemerintah dapat diarahkan kepada kelompok yang paling membutuhkan.
Perbaikan data desil bukan sekadar memperbaiki angka dalam sistem, tetapi memastikan setiap angka benar-benar mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ketepatan data menjadi fondasi penting agar program bantuan sosial tidak hanya tersalurkan, tetapi juga benar-benar tepat sasaran dan berkeadilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....