Urban Farming Surabaya Berpeluang Jadi Destinasi Eduwisata

  • 15 Agt 2026 20:33 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Keterbatasan lahan menjadi tantangan pengembangan pertanian di kawasan perkotaan. Namun, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang bagi Surabaya untuk mengembangkan urban farming sebagai destinasi eduwisata.

Urban farming memungkinkan masyarakat bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan terbatas melalui hidroponik, akuaponik, vertikultur, vertical garden, hingga budikdamber. Salah satu contohnya terdapat di Kampoeng Pintar Oase Tembok Gede yang mengembangkan berbagai tanaman produktif sekaligus mengolah hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi.

Dalam dialog Beranda Asta Cita, Sabtu, 15 Agustus 2026, Aseyan, Ketua Poktan Kampoeng Pintar Oase Tembok Gede, menyampaikan bahwa keterbatasan lahan bukan lah sebuah hambatan.

“Keterbatasan lahan bukan berarti kita tidak bisa bertani. Justru dengan lahan yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan tanaman sekaligus menjadi tempat belajar bagi masyarakat,” ujarnya.

Potensi tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi pelajar. Melalui konsep learning by doing, pengunjung tidak hanya melihat tanaman, tetapi dapat mempelajari hidroponik, akuaponik, pengelolaan lingkungan, hingga mencoba menanam secara langsung.

Senada dengan hal tersebut, Najwa Syarifah, mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya mengatakan urban Farming adalah strategi untuk ketahanan pangan yang bisa dimanfaatkan untuk berdaya guna di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini.

“Urban farming sangat potensial menjadi media pembelajaran di luar kelas karena siswa bisa melihat dan mempraktikkan langsung materi tentang tanaman dan lingkungan. Karena ini merupakan strategi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat modern,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Mazaya Hurrin ‘Ain, mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya menilai Urban Farming adalah strategi tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan saja. Lebih jauh dari itu, Urban Farming bisa dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi wisata pendidikan.

“Urban farming bukan hanya sebagai cara pemenuhan pangan, tapi juga bisa dikembangkan menjadi eduwisata, dengan membuat kampung tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menarik,” jelasnya.

Pengembangan urban farming juga berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan, pendidikan dan ekonomi masyarakat. Kegiatan ini dapat menambah ruang hijau, meningkatkan kepedulian lingkungan, sekaligus membuka peluang promosi dan pemasaran produk masyarakat.

Dengan demikian, keterbatasan lahan di Surabaya tidak harus menjadi hambatan. Jika dikelola secara kreatif dan melibatkan masyarakat, urban farming dapat berkembang menjadi wisata edukasi yang menggabungkan pertanian, pendidikan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....