Implementasi SPAB Perkuat Kesiapsiagaan Bencana sejak Masa Pengenalan Sekolah

  • 28 Jul 2026 18:31 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan budaya sadar bencana kepada peserta didik baru. Melalui edukasi sejak hari pertama sekolah, siswa diharapkan memahami potensi risiko bencana di lingkungan sekolah serta mengetahui langkah penyelamatan diri ketika terjadi keadaan darurat.

Dalam program Kentongan di Pro 1 RRI Surabaya, Selasa, 28 Juli 2026, dengan tema "Implementasi SPAB dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah", Wakil Ketua MDMC Jawa Timur, Rosi N. Hendrawan, ST, MMB, menilai bahwa pendidikan kebencanaan tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial saja, namun harus adaptif dan aplikatif di masyarakat.

"Implementasi perlindungan diri saat bencana maupun wawasan kebencanaan ini harus menjadi budaya di sekolah. Jangan sampai siswa baru mengetahui harus melakukan apa, setelah terjadi bencana. Untuk itu, dengan adanya Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menjadi salah satu sarana edukasi siswa untuk bisa memahami apa yang seharusnya dilakukan saat terjadi bencana," ujarnya.

Permasalahan lainnya adalah masih adanya sekolah yang belum rutin menggelar simulasi bencana. Padahal, latihan evakuasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan dan mengurangi kepanikan ketika bencana benar-benar terjadi.

Ketua Divisi Mitigasi MDMC Jawa Timur, Rindya Fery Indrawan, SPi, MP, mengatakan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga seluruh warga sekolah.

"Sekolah yang aman bencana bukan hanya memiliki dokumen atau rambu evakuasi, tetapi juga memastikan seluruh siswa, guru serta tenaga kependidikan memahami apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat. Edukasi harus dimulai sejak MPLS agar kesiapsiagaan menjadi kebiasaan seluruh warga sekolah," ujarnya.

Ia menambahkan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana masih menjadi tantangan di berbagai satuan pendidikan. Masih kurangnya pemahaman mengenai prosedur evakuasi, minimnya pelatihan kebencanaan, hingga belum optimalnya penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama pada awal tahun ajaran baru.

Menurutnya, implementasi SPAB juga memerlukan dukungan dari pemerintah, orang tua, serta masyarakat agar pendidikan kebencanaan dapat berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan melindungi diri dan orang lain saat menghadapi bencana.

Melalui penerapan SPAB sejak MPLS, sekolah diharapkan mampu membangun budaya sadar risiko bencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....