Krisis Energi Global Dorong Indonesia Percepat Transisi Energi Nasional

  • 05 Jul 2026 18:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, gangguan rantai pasok energi, serta fluktuasi harga minyak dan gas bumi menjadi tantangan serius bagi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional. Di tengah kebutuhan energi domestik yang terus meningkat, Indonesia juga menghadapi tantangan ketergantungan pada impor energi tertentu serta tuntutan global untuk mempercepat transisi menuju energi rendah karbon.

Persoalan tersebut menjadi sorotan utama dalam Strategic Energy Forum: Menakar Posisi Indonesia di Tengah Krisis Energi Global yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Kajian (Ditlitka) PPI Dunia secara daring, Sabtu, 4 Juli 2026.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Negara Qatar, H.E. Syahda Guruh Langkah Samudera. Dalam sambutannya, Syahda menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Forum tersebut menyoroti berbagai tantangan yang tengah dihadapi Indonesia. Meski memiliki sumber daya energi yang melimpah, mulai dari minyak, gas bumi, batu bara, panas bumi, hingga energi terbarukan, Indonesia masih menghadapi peningkatan kebutuhan energi domestik, penurunan produksi minyak bumi, ketergantungan impor energi tertentu, serta kebutuhan investasi yang besar untuk pengembangan infrastruktur energi.

Dalam keterangan pers yang diterima oleh rri.co.id, Anggota Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D., menilai bahwa perubahan geopolitik global telah mengubah cara negara-negara memandang energi.

Menurutnya, ketahanan energi tidak lagi hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga menyangkut akses, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan.

"Strategi ketahanan energi Indonesia harus dibangun melalui kebijakan yang adaptif terhadap perubahan geopolitik global, dengan tetap menjaga keseimbangan antara ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan penerimaan masyarakat terhadap energi," ujarnya dalam forum tersebut.

Indonesia memiliki sumber daya energi yang melimpah, mulai dari minyak dan gas bumi hingga energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan biomassa. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan meningkatnya kebutuhan energi nasional dan target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Strategic Energy Forum: Menakar Posisi Indonesia di Tengah Krisis Energi Global yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Kajian (Ditlitka) PPI Dunia secara daring, Sabtu, 4 Juli 2026. sumber foto:tangkapan layar

Mewakili Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan menjelaskan bahwa pemerintah saat ini berupaya memperkuat ketahanan energi melalui optimalisasi sumber daya domestik, hilirisasi industri, dan percepatan pengembangan energi baru terbarukan.

Sementara itu, Vice President Technology Innovation Upstream & Low Carbon PT Pertamina (Persero), Dr. Ali Sundja, S.T., M.T., menegaskan bahwa inovasi teknologi menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian sektor energi global.

"Transformasi digital, peningkatan keandalan aset, serta pengembangan teknologi merupakan fondasi utama bagi industri energi Indonesia untuk tetap adaptif menghadapi dinamika global sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," kata Ali Sundja.

Perspektif internasional turut disampaikan oleh Dr. Ir. Ardian Nengkoda, M.Eng., Petroleum Engineering Consultant Saudi Aramco. Ia menilai penguatan jejaring profesional global dan transfer pengetahuan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing sektor energi di tingkat internasional.

Selain membahas tantangan energi global, forum ini juga menjadi ajang peluncuran kajian Indonesia Energy Outlook 2026: Menavigasi Ketahanan Energi, Transisi, dan Industrialisasi Nasional yang disusun oleh Komisi Energi dan Sumber Daya Mineral PPI Dunia.

Di sisi lain, Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution, menilai tantangan energi yang dihadapi Indonesia tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan diaspora Indonesia untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan.

Pandangan serupa disampaikan Dandi Alvayed, MSc., Direktur Komunikasi IATMI KSA sekaligus Wakil Direktur I Ditlitka PPI Dunia. Ia menilai krisis energi global justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat sinergi nasional.

"Krisis energi global bukan hanya tantangan yang harus dihadapi Indonesia, tetapi juga momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan diaspora Indonesia dalam membangun ketahanan energi nasional berbasis inovasi, ilmu pengetahuan, serta kepemimpinan generasi muda," ungkap Dandi.

Melalui forum tersebut, PPI Dunia mendorong lahirnya berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk penguatan jejaring kepakaran diaspora Indonesia dan pengembangan program edukasi energi bagi generasi muda. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya mampu menghadapi ancaman krisis energi global, tetapi juga memanfaatkan peluang transisi energi untuk meningkatkan daya saing nasional di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....