Menyikapi Suka Duka Ditengah Masyarakat yang Kian Rapuh Hadapi Tekanan Hidup
- 12 Jun 2026 17:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ketika kegagalan datang, tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk menerimanya. Kondisi ini memunculkan persoalan serius, apakah masyarakat modern semakin kehilangan kemampuan untuk berdamai dengan suka dan duka kehidupan?
Dalam program Beranda Asta Cita – Moderasi Beragama RRI Pro 1 Surabaya, Jum'at, 12 Juni 2026, Ketua Badan Penyiaran Hindu Jawa Timur sekaligus Tokoh Rohaniawan Indonesia Merayakan Perbedaan, I Gede Putu Suardana, mengatakan manusia sering kali menginginkan kebahagiaan hadir sepanjang waktu dan menolak segala bentuk penderitaan. Padahal, dalam kenyataannya, kedua hal tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.
"Suka dan duka adalah dinamika yang pasti dialami setiap manusia. Yang menjadi persoalan bukan pada hadirnya duka, tetapi bagaimana kita menyikapi dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan," ujarnya.
Fenomena meningkatnya tekanan hidup tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Persaingan kerja, tuntutan pencapaian, konflik keluarga, hingga derasnya arus informasi membuat banyak orang sulit menemukan ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, media sosial turut menciptakan standar kebahagiaan yang sering kali tidak realistis. Banyak orang membandingkan kehidupannya dengan pencapaian orang lain tanpa mengetahui realitas yang sebenarnya.
Akibatnya, rasa syukur dan penerimaan diri semakin terkikis, sementara kecemasan dan ketidakpuasan terus meningkat. Suardana menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
"Hari ini banyak orang mengejar kesuksesan di luar dirinya, tetapi lupa membangun ketenangan di dalam dirinya. Ketika ukuran kebahagiaan hanya ditentukan oleh materi dan pengakuan sosial, maka manusia akan mudah kecewa saat kenyataan tidak sesuai harapan," katanya.
Dalam perspektif Hindu, lanjutnya, suka dan duka merupakan sarana pembelajaran yang membentuk kedewasaan batin. Setiap pengalaman hidup mengandung pelajaran yang dapat membawa manusia menuju kehidupan yang lebih bijaksana.
"Duka bukan musuh yang harus dihindari, melainkan guru yang mengajarkan kesabaran, keteguhan, dan kebijaksanaan. Dari setiap kesulitan, manusia memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat," katanya.
Konsep Jagadhita yang dikenal dalam ajaran Hindu tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan materi, tetapi juga kebahagiaan dan ketenteraman batin. Nilai ini menjadi penting di tengah masyarakat yang sering kali mengukur keberhasilan hidup hanya dari aspek ekonomi dan pencapaian duniawi.
Selain persoalan individu, tantangan lain yang dihadapi masyarakat adalah meningkatnya sikap intoleransi dan menurunnya kemampuan menghargai perbedaan. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama menjadi pendekatan penting untuk membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan mampu menghadapi berbagai persoalan sosial secara bijaksana.
Suardana menegaskan bahwa kerukunan dan kemampuan menerima perbedaan juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan Jagadhita. "Kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga tercermin dalam hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Ketika masyarakat mampu menghargai perbedaan, di situlah Jagadhita dapat diwujudkan bersama," tuturnya.
Melalui pemahaman spiritual yang lebih mendalam, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan hidup, tetapi juga menemukan makna di balik setiap peristiwa yang dialami. Sebab, tantangan terbesar manusia bukanlah menghindari duka, melainkan bagaimana tetap teguh, bersyukur, dan bijaksana ketika duka itu datang menghampiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....