Ngabalin: Pancasila Perekat Bangsa ditengah Perbedaan

  • 01 Jun 2026 10:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum refleksi atas berbagai persoalan kebangsaan yang semakin kompleks. Di tengah menguatnya polarisasi politik, konflik identitas, penyebaran hoaks, hingga menurunnya budaya dialog, nilai-nilai Pancasila masih relevan dalam menjaga persatuan bangsa.

Dalam dialog Aspirasi Pagi Ini, Senin, 1 Juni 2026, Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Koordinasi Muballigh Seluruh Indonesia (PP. BAKO-MUBIN), Ali Mochtar Ngabalin, menegaskan bahwa Pancasila merupakan warisan para pendiri bangsa yang harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Pancasila adalah titik temu seluruh elemen bangsa. Di tengah berbagai perbedaan yang dimiliki masyarakat Indonesia, Pancasila menjadi perekat yang mampu menyatukan kita dalam semangat kebangsaan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan toleransi, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama warga negara,” ujarnya.

Menurut Ngabalin, perkembangan teknologi informasi dan media sosial saat ini menghadirkan tantangan baru bagi persatuan bangsa. Penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial dapat mengancam keharmonisan masyarakat apabila tidak disikapi dengan bijak.

Untuk itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berinteraksi, baik di ruang nyata maupun ruang digital. “Kunci dari menghadapi tantangan saat ini, ditengah perkembangan teknologi dan pesatnya arus informasi digital di media sosial adalah literasi. Perbedaan adalah kekuatan bangsa Indonesia. Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa,” katanya.

Ketua DPC GMNI Surabaya, Virgiawan Budi Prasetyo dalam dialog Aspirasi Pagi Ini, Senin, 1 Juni 2026. Foto: RRI/Dini.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Surabaya, Virgiawan Budi Prasetyo, menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. “Pancasila bukan sekadar hafalan lima sila, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Generasi muda perlu menjadi pelopor persatuan, menghargai keberagaman, dan aktif melawan berbagai bentuk intoleransi yang dapat merusak persaudaraan kebangsaan,” katanya.

Virgiawan menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menanamkan pemahaman yang mendalam mengenai Pancasila kepada generasi muda. Menurutnya, pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan perlu terus diperkuat agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Pancasila harus relevan dengan kondisi saat ini. Menurut saya, masih banyaknya permasalahan korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin di negeri ini, sangat menciderai nilai-nilai Pancasila. Ini juga menjadi tantangan generasi muda, bagaimana menerapkan nilai Pancasila, kalau pemimpinnya saja masih banyak yang korupsi," katanya.

Ia menambahkan peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum refleksi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar bangsa. Di tengah berbagai perbedaan yang ada, Pancasila diyakini tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, serta mewujudkan Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera.

Dengan semangat gotong royong dan toleransi yang terkandung dalam Pancasila, bangsa Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....