Literasi Anak Masih Terkendala Akses dan Kebiasaan
- 30 Mei 2026 09:36 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Rendahnya minat baca di kalangan anak-anak serta terbatasnya ketersediaan buku bacaan yang menarik dan sesuai usia, masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Dalam program Dialog Aspirasi RRI Surabaya bertema "Cara Menulis Cerita Anak", Sabtu, 30 Mei 2026, penulis buku cerita anak, Melyani Dwi Astuti, S.Pd, menilai bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah pola aktivitas anak dalam kesehariannya.
Kehadiran gawai dan beragam konten digital membuat banyak anak lebih memilih menghabiskan waktu untuk bermain game atau menonton video dibandingkan membaca buku. "Anak-anak saat ini hidup di tengah perkembangan teknologi yang masif dan arus informasi yang sangat cepat. Karena itu, buku dan cerita anak harus mampu bersaing dengan berbagai bentuk hiburan digital yang tersedia. Cerita yang disajikan harus menarik, dekat dengan kehidupan mereka, dan mampu membangkitkan rasa ingin tahu," ujarnya.
Melyani Dwi Astuti, yang akrab dipanggil Bu Yeni, yang juga guru SDN Kupang Krajan 604 Surabaya mengatakan kondisi tersebut, menurut menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan dan para pegiat literasi. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi, namun di sisi lain dapat mengurangi ketertarikan anak terhadap kegiatan membaca apabila tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat dari orang tua maupun guru.
"Anak-anak sebenarnya memiliki banyak cerita dan gagasan. Yang perlu dilakukan adalah memberikan ruang dan kesempatan agar mereka berani menuangkannya dalam bentuk tulisan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa cerita anak tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menanamkan nilai moral, serta mengembangkan kemampuan berbahasa dan berpikir kritis. Namun, masih banyak bacaan anak yang kurang memperhatikan kebutuhan perkembangan psikologis dan kognitif pembacanya.
Selain itu, Melyani menyoroti masih rendahnya budaya membaca di lingkungan keluarga. Banyak orang tua yang belum menjadikan aktivitas membaca sebagai kebiasaan sehari-hari di rumah.
Padahal, keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan dalam membangun kecintaan anak terhadap buku. "Padahal kebiasaan sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur, menyediakan sudut baca di rumah, atau mengajak anak berkunjung ke perpustakaan, bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca sejak dini. Ketika anak terbiasa berinteraksi dengan buku, mereka akan lebih mudah mengembangkan kemampuan literasi dan kreativitas," ujarnya.
Untuk itu, ia juga mengajak para guru untuk lebih aktif mendorong siswa menghasilkan karya tulis sederhana. Menulis cerita, puisi, maupun pengalaman pribadi dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengekspresikan ide dan mengembangkan imajinasi.
Dengan semakin banyaknya karya cerita anak yang menarik, edukatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, diharapkan minat baca anak dapat terus meningkat. Literasi yang kuat dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang kreatif, kritis, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....