Eldest Daughter Syndrome Picu Tekanan Mental Anak Pertama

  • 19 Mei 2026 21:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena eldest daughter syndrome belakangan ramai diperbincangkan di media sosial karena berkaitan dengan tekanan mental yang dialami anak perempuan pertama dalam keluarga.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak sulung perempuan memikul tanggung jawab besar sejak usia muda. Akibatnya, banyak anak pertama merasa harus selalu kuat, mandiri, dan menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Dilansir dari my.clevelandclinic.org, eldest daughter syndrome bukan termasuk diagnosis medis resmi dalam dunia kesehatan mental. Namun, istilah tersebut menggambarkan tekanan emosional yang nyata akibat tuntutan keluarga dan lingkungan. Kondisi ini sering muncul karena anak perempuan pertama dianggap lebih dewasa dibanding saudara lainnya.

Fenomena tersebut banyak terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang masih memiliki budaya keluarga kuat. Anak sulung perempuan kerap diminta membantu mengurus rumah, menjaga adik, hingga menjadi penengah saat terjadi masalah keluarga. Tanggung jawab itu sering diberikan meski usia mereka masih tergolong muda.

Dalam banyak kasus, anak pertama perempuan juga merasa harus memenuhi harapan orang tua. Mereka cenderung takut mengecewakan keluarga sehingga memendam tekanan sendiri. Kondisi ini dapat membuat seseorang mudah cemas, stres, hingga mengalami kelelahan emosional.

Dilansir dari healthline.com, tekanan berkepanjangan pada anak sulung perempuan dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial. Beberapa orang merasa sulit meminta bantuan karena terbiasa menjadi sosok yang diandalkan. Ada pula yang merasa bersalah ketika ingin memprioritaskan kebutuhan pribadi.

Psikolog menyebut pola pengasuhan dan pembagian tanggung jawab dalam keluarga menjadi salah satu faktor utama munculnya fenomena ini. Anak perempuan pertama sering kali mendapatkan ekspektasi lebih tinggi dibanding saudara lainnya. Padahal, setiap anak tetap membutuhkan ruang untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan.

Meski begitu, tidak semua anak sulung perempuan mengalami eldest daughter syndrome. Banyak keluarga yang mampu membagi tanggung jawab secara seimbang sehingga anak tidak merasa terbebani. Dukungan emosional dari orang tua dan komunikasi yang terbuka dinilai penting untuk mencegah tekanan mental pada anak.

Para ahli menyarankan agar keluarga lebih memahami kondisi emosional anak pertama perempuan. Orang tua diimbau tidak memberikan tanggung jawab berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan mental anak. Selain itu, anak sulung perempuan juga perlu belajar menetapkan batasan dan menyampaikan perasaan mereka secara terbuka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....