Inovasi Thania Permudah Deteksi Dini Gangguan Bicara Anak

  • 14 Mei 2026 08:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Mahasiswa pascasarjana asal Indonesia, Sabathania Pamilaar, mengembangkan inovasi teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mendeteksi dini keterlambatan bicara dan gangguan gagap pada anak usia 2 hingga 5 tahun. Dalam keterangannya kepada RRI, Kamis, 14 Mei 2026, Thania, sapaan akrabnya, menjelaskan melalui perusahaan rintisannya, Hai Booca, ia merancang sistem analisis suara pintar yang bertujuan mempermudah orang tua melakukan pemeriksaan awal secara mandiri dengan biaya yang terjangkau.

Inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih sulitnya akses layanan pemeriksaan tumbuh kembang anak, terutama akibat kendala geografis dan tingginya biaya konsultasi klinis. Menurut Thania, banyak orang tua terlambat menyadari adanya gangguan perkembangan bicara pada anak karena keterbatasan fasilitas kesehatan.

“Kami melihat masih banyak keluarga yang kesulitan mendapatkan akses pemeriksaan tumbuh kembang anak, terutama di daerah yang fasilitas kesehatannya terbatas. Padahal, deteksi dini sangat penting agar anak bisa segera mendapat penanganan yang tepat,” ujarnya.

Thania menjelaskan, sistem yang dikembangkan dibuat ramah anak dan memanfaatkan pendekatan personal. Pada tahap awal, orang tua diminta merekam suara saat mengucapkan sejumlah kata dasar. Teknologi AI kemudian mempelajari karakter suara dan logat tersebut sebelum menirukannya untuk memandu anak mengucapkan kata yang sama.

Pendekatan ini dipilih agar anak merasa lebih nyaman saat menjalani tes karena mendengar suara yang sudah dikenalnya sehari-hari. “Kami sengaja menggunakan suara orang tua karena anak cenderung merasa lebih aman dan tidak tertekan ketika mendengar suara yang familiar. Harapannya, proses pemeriksaan jadi lebih natural,” katanya.

Setelah anak memberikan respons, aplikasi akan menganalisis pola bicara dan mendeteksi kemungkinan adanya keterlambatan bicara atau kesulitan berbicara lainnya. Hasil analisis kemudian ditampilkan melalui indikator warna yang mudah dipahami orang tua.

Jika sistem mendeteksi risiko tinggi, aplikasi akan memberikan peringatan berwarna merah dan menyarankan pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis. Sementara itu, jika risikonya rendah, aplikasi menyediakan permainan edukatif untuk membantu melatih kemampuan bicara anak di rumah.

Saat ini, penelitian masih berada pada tahap pengujian awal dengan melibatkan orang tua dari Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sistem AI mampu mengenali berbagai karakter suara dan logat bahasa Indonesia secara akurat.

“Kami ingin memastikan teknologi ini relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, termasuk dalam mengenali variasi logat dan cara berbicara anak-anak di berbagai daerah,” ujarnya.

Thania menargetkan biaya penggunaan aplikasi ini sekitar 3 dolar AS untuk sekali tes. Dengan harga tersebut, inovasi ini diharapkan menjadi solusi praktis dan terjangkau bagi keluarga dalam memantau perkembangan bicara anak sejak dini.

“Teknologi seharusnya bisa membantu lebih banyak keluarga tanpa menjadi beban biaya. Kami berharap aplikasi ini dapat menjadi langkah awal yang mudah diakses sebelum orang tua melakukan pemeriksaan lanjutan ke tenaga medis,” ujarnya.

Melalui pengembangan teknologi ini, Thania berharap semakin banyak anak mendapatkan penanganan yang tepat pada masa awal pertumbuhan tanpa terkendala biaya maupun akses layanan kesehatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....