Jejak Kearifan Lokal dan Doa Ulama di Petrokimia Gresik

  • 11 Mei 2026 13:14 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perjalanan awal berdirinya industri Petrokimia Gresik tidak lepas dari berbagai tantangan yang cukup kompleks. Latar belakang yang beragam turut menghadirkan berbagai dinamika dalam proses pembangunan, mulai dari kegagalan start up hingga gangguan teknis berupa kerusakan mesin yang terjadi berulang kali.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi oleh manajemen perusahaan pada masa itu. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, tidak hanya langkah teknis yang dilakukan, tetapi juga pendekatan nonteknis mulai dipertimbangkan.

Gagasan ini muncul dari usulan sejumlah karyawan yang melihat adanya faktor lain di luar aspek teknis. Namun demikian, usulan tersebut sempat mendapat penolakan dari pihak manajemen, yang menganggap bahwa permasalahan industri seharusnya diselesaikan melalui pendekatan teknis.

Meskipun demikian, pada akhirnya upaya nonteknis tetap dilakukan. Saat itu, pihak manajemen meminta bantuan kepada Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer, untuk mendapatkan dukungan dari kalangan ulama. Permintaan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan rekomendasi seorang ulama dari Sumenep, yaitu K.H. Bahaudin Mudhary.

Pertemuan antara pihak manajemen Petrokimia Gresik yang diwakili Ir. James Simanjuntak (Pimpro Petrokimia Gresik) beserta Lamsono B. A (Humas Petrokimia Gresik) dengan K.H. Bahaudin Mudhary dilakukan di kediamannya di Sumenep. Dalam pertemuan tersebut, pihak perusahaan menunjukkan berbagai dokumentasi terkait kondisi mesin dan proyek yang mengalami kegagalan. Selain itu, disampaikan pula harapan dari sebagian karyawan agar permasalahan tersebut dapat dibantu melalui pendekatan nonteknis.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, diketahui bahwa lokasi pembangunan pabrik tersebut memiliki latar belakang sejarah tertentu. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan dalam upaya penyelesaian masalah melalui pendekatan spiritual. Sejak saat itu, komunikasi antara pihak perusahaan dan K.H. Bahaudin Mudhary dilakukan secara intensif, termasuk melalui surat-menyurat untuk menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan.

Dalam kunjungannya ke lokasi proyek, K.H. Bahaudin Mudhary mengajak para karyawan yang beragama Islam untuk melaksanakan salat berjamaah. Selain itu, beliau juga melakukan doa secara khusus di beberapa titik yang dianggap sering mengalami gangguan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar batin dalam mendukung kelancaran operasional proyek.

Tercatat, K.H. Bahaudin Mudhary melakukan kunjungan ke lokasi proyek Petrokimia Gresik sebanyak dua kali, yaitu pada pertengahan April 1972 serta saat peresmian pabrik oleh Presiden Soeharto. Kehadiran beliau di lokasi proyek dinilai memberikan dampak positif, terutama dalam meningkatkan kepercayaan diri dan semangat para karyawan.

Peristiwa ini menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Petrokimia Gresik, yang menunjukkan bahwa dalam menghadapi tantangan besar, diperlukan berbagai pendekatan, baik secara teknis maupun nonteknis. Sinergi antara usaha manusia dan nilai-nilai spiritual menjadi pelajaran penting dalam proses pembangunan industri di Indonesia.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....