Mengenal Mai Song dalam Tradisi Tionghoa

  • 09 Apr 2026 14:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Tradisi kematian dalam budaya Tionghoa dikenal memiliki rangkaian ritual yang sarat makna spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. Salah satu bagian penting dalam rangkaian tersebut adalah Mai Song, sebuah prosesi sakral yang masih dijalankan oleh masyarakat Tionghoa, termasuk di Indonesia.

Mai Song merupakan ritual dalam upacara pemakaman Tionghoa yang melambangkan pengantaran arwah orang yang meninggal menuju alam baka. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terakhir dari keluarga kepada mendiang, sekaligus wujud bakti kepada leluhur.

Mengutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia budaya-indonesia.org dan kamboja.co.id, Secara etimologis, istilah Mai Song berasal dari dialek Hokkian. Kata “mai” berarti “pintu” dan “song” berarti “duka”, sehingga dapat dimaknai sebagai “pintu duka” atau gerbang menuju perpisahan terakhir.

Dalam praktiknya, ritual ini juga memiliki arti simbolis sebagai proses pelepasan roh agar dapat menuju kehidupan berikutnya dengan tenang.

Dalam budaya Tionghoa, anak laki-laki memiliki peran penting dalam upacara kematian. Namun, apabila mendiang tidak memiliki anak laki-laki atau keluarga dekat, maka peran tersebut dapat digantikan oleh kerabat atau orang kepercayaan dalam prosesi Mai Song. Hal ini mencerminkan nilai filial piety (bakti kepada orang tua) yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa.

Upacara Mai Song biasanya dilakukan pada malam sebelum pemberangkatan jenazah atau sebelum pemakaman. Beberapa tahapan penting dalam prosesi ini antara lain Persiapan jenazah (Jenazah dimandikan dan didandani sebagai bentuk penghormatan terakhir), Penaikan dupa dan doa (Keluarga serta pelayat menyalakan dupa dan memanjatkan doa untuk mendiang).

Selain itu juga ada pembakaran persembahan (Persembahan seperti uang kertas atau miniatur benda dibakar sebagai simbol bekal bagi arwah di alam lain), Penghormatan terakhir (Para pelayat memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan sebagai tanda perpisahan), dan Pengantaran jenazah (Jenazah kemudian diantar ke tempat pemakaman atau krematorium sebagai tahap akhir prosesi).

Mai Song bukan hanya sekadar ritual kematian, melainkan memiliki makna mendalam seperti Penghormatan kepada leluhur, Simbol bakti keluarga kepada orang tua, Kepercayaan akan kehidupan setelah kematian, serta Penguatan ikatan keluarga dan komunitas.

Tradisi ini juga menjadi bagian awal dari rangkaian ritual lain seperti Ceng Beng (ziarah kubur) yang terus dilakukan sebagai bentuk penghormatan berkelanjutan kepada leluhur. Meskipun sempat mengalami pembatasan pada masa lalu, tradisi Mai Song tetap bertahan dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kini, tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari praktik keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.

Mai Song adalah refleksi mendalam dari nilai-nilai budaya Tionghoa yang menekankan penghormatan, kesetiaan, dan hubungan antara dunia manusia dengan alam spiritual. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya melepas kepergian orang tercinta, tetapi juga menjaga hubungan dengan leluhur sebagai bagian penting dari identitas budaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....