Minyak Iran Lebih Laku Dibanding Venezuela, Ini Sebabnya
- 28 Mar 2026 12:40 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dua negara dengan cadangan minyak terbesar dunia, Iran dan Venezuela, menghadapi realitas berbeda di pasar energi global. Meski sama-sama terkena sanksi internasional, minyak Iran justru lebih diminati dibanding Venezuela.
Mahasiswa PhD King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM) Saudi Aramco sekaligus peneliti energi, Dandi Alvayed, mengatakan faktor penentu bukan hanya besarnya cadangan, melainkan kualitas minyak dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pasar.
“Banyak yang mengira cadangan terbesar otomatis paling bernilai. Padahal, dalam industri minyak, yang menentukan adalah seberapa mudah minyak itu diolah dan seberapa dibutuhkan oleh pasar,” ujarnya, Sabtu 28 Maret 2026.
Dandi menjelaskan, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 303 miliar barel. Sementara Iran berada di posisi ketiga dengan sekitar 208 miliar barel. Namun, keunggulan itu tidak otomatis membuat Venezuela unggul secara komersial.
Hal ini karena minyak Venezuela didominasi jenis extra-heavy crude yang sangat kental dan sulit diproses tanpa teknologi khusus. Kondisi tersebut membuat hanya kilang tertentu di dunia yang mampu mengolahnya secara optimal.
Sebaliknya, minyak Iran tergolong medium-heavy crude yang lebih fleksibel dan dapat diolah di lebih banyak kilang tanpa memerlukan modifikasi besar. Ini membuat minyak Iran lebih mudah dipasarkan secara global.
“Minyak Iran masih bisa masuk ke ratusan kilang di dunia. Ini yang membuatnya lebih ‘laku’ meskipun sama-sama terkena sanksi,” kata Dandi.
Selain faktor teknis, strategi harga juga berperan penting. Iran diketahui menawarkan diskon kepada pembeli, terutama di kawasan Asia, untuk menjaga volume ekspor tetap stabil di tengah pembatasan perdagangan.
Di sisi lain, Venezuela cenderung bergantung pada pasar yang lebih sempit, yakni kilang dengan teknologi kompleks seperti coking unit yang mampu mengolah minyak berat menjadi produk bernilai tinggi.
Meski demikian, posisi Venezuela tidak sepenuhnya lemah. Dalam kondisi tertentu, seperti saat pasokan minyak berat global menipis, minyak Venezuela justru menjadi komoditas yang dicari.
Dandi juga menyoroti faktor geopolitik yang memengaruhi dinamika ini. Menurutnya, sanksi terhadap Iran tidak hanya berkaitan dengan isu politik, tetapi juga strategi untuk menekan sumber utama pendapatan negara tersebut.
“Energi hari ini adalah alat geopolitik. Tekanan terhadap Iran dilakukan melalui pembatasan akses pasar minyak, bukan lewat konflik langsung,” ujarnya.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa dalam industri energi global, nilai minyak tidak hanya ditentukan oleh jumlah cadangan, tetapi juga kualitas, akses pasar, dan dinamika geopolitik.
“Pada akhirnya, pasar membeli kepastian pasokan dan kemudahan pengolahan. Di situlah perbedaan Iran dan Venezuela terlihat jelas,” kata Dandi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....